Selasa, 02 September 2014
Catatan Tentang Cinta (4)
Yang menghina belum tentu lebih mulia dibandingkan yang dihina.
Bahkan kebanyakan orang justru sedang menghina dirinya sendiri dengan menghina orang lain. #CatatanTentangCinta
Bahkan kebanyakan orang justru sedang menghina dirinya sendiri dengan menghina orang lain. #CatatanTentangCinta
Catatan Tentang Cinta (3)
Hei,
jika dua orang memang benar-benar saling menyukai satu sama lain, itu
bukan berarti mereka harus bersama saat ini juga. Tunggulah di waktu
yang tepat, saat semua memang sudah siap, maka kebersamaan itu bisa jadi
hadiah yang hebat untuk orang-orang yang bersabar.
Sementara kalau waktunya belum tiba, sibukkanlah diri untuk terus menjadi lebih baik, bukan dengan melanggar banyak larangan, dan nilai-nilai agama.
Waktu dan jarak akan menyingkap rahasia besarnya, apakah rasa suka itu semakin besar ... atau semakin memudar. #CatatanTentangCinta
Sementara kalau waktunya belum tiba, sibukkanlah diri untuk terus menjadi lebih baik, bukan dengan melanggar banyak larangan, dan nilai-nilai agama.
Waktu dan jarak akan menyingkap rahasia besarnya, apakah rasa suka itu semakin besar ... atau semakin memudar. #CatatanTentangCinta
Catatan Tentang Cinta (2)
Satu hal yang kadang kupikir hanya lelucon ... Jatuh bangun aku, sampai titik dimana aku mencoba belajar tentang ikhlas.
Dulu, emosiku sering kali seperti babi buta beringas.
Lambat laun, aku juga tidak yakin pasti tentang waktu
Tapi kini, aku bahkan lupa cara marah dan menangis.
Sering kali hanya tertutur,
"Yaudah gakpapa, memang bukan hakku,"
Tenang.
Damai.
#CatatanTentangCinta
Dulu, emosiku sering kali seperti babi buta beringas.
Lambat laun, aku juga tidak yakin pasti tentang waktu
Tapi kini, aku bahkan lupa cara marah dan menangis.
Sering kali hanya tertutur,
"Yaudah gakpapa, memang bukan hakku,"
Tenang.
Damai.
#CatatanTentangCinta
Catatan Tentang Cinta (1)
Jangan
sia-siakan waktumu untuk pria yang tidak jelas dan jangan pula
buang-buang waktumu untuk wanita yang tidak pernah puas ... #CatatanTentangCinta
Senin, 09 Desember 2013
Agus X-Factor
Lebih Dekat Dengan Agus X-Factor Saat Tiba di Kampung Halaman, Balikpapan
Awali Nyanyi dari Penyiar Radio, Anggap Fans sebagai Supporter
NENO RACHMADANA, Balikpapan
Agus yang tiba di Balikpapan, Minggu (24/3) sejak tereliminasi Jumat (22/3) meluangkan waktu untuk berkenalan dengan Kaltim Post beberapa waktu lalu di kawasan Balikpapan Baru. Dia mengisahkan pengalamannya sebagai oleh-oleh dari Gala Show X-Factor di Jakarta. Berikut penuturannya.
Bernyanyi di kelas adalah hobinya. Pribadinya yang ceria dan periang membuat dia disukai banyak teman. Kala itu dia bersekolah di SD 020 Balikpapan Selatan dan kerap dimarahi guru karena suaranya selalu saja menghiasi kelas apabila jam pelajaran belum dimulai. Sambil menunggu guru datang, teman-teman sekalasnya sibuk dengan aktivitas masing-masing layaknya anak-anak aktif lainnya, begitupun dengan Agus yang hobi menyanyi sedari kecil itu. “Saya suka bernyanyi di kelas. Lagu apa saja saya suka, mau ngobrol apa saja bisa jadi lagu. Apalagi kalau lagi iseng bercanda sama teman-teman,” tutur pria kelahiran Balikpapan, 12 Agustus 1985 itu.
Tak hanya di sekolah, di rumahnya yang berlokasi di gunung empat Balikpapan, pria bernama lengkap Agus Hafiluddin ini suka menyanyi kapan saja dan dimana saja. “Di kamar, di kamar mandi, di dapur, di teras rumah, semuanya,” akunya.
Anak ke enam dari tujuh bersaudara itu mengatakan, bakat dan hobinya didukung penuh oleh orangtuanya, terutama Halija ibunya. Di antara enam saudara lainnya, hanya dia yang sangat menyukai dunia musik dan tekun menyeriusi bidang itu.
Lantas, enam tahun lalu dia tergabung dalam grup band lokal Balikpapan bernama Gin band. Dulu hingga kini, mereka menjual suara dari cafe ke cafe, dan kadang tak malu juga untuk mengamen di jalan. “Awal-awal terbentuknya Gin Band pernah ngamen di Lapangan Merdeka, atau acara penggalangan dan sekolah,” akunya.
Kecintaannya pada dunia tarik suara tak berhenti sampai di situ. Agus berinisiatif menjadi seorang penyiar radio lokal Kota Minyak. Serius selama beberapa tahun di dunia gelombang FM lokal, membuatnya tak lagi merasa kesulitan untuk bersaing di ajang berbakat X-Factor. “Menurutku, penyanyi yang baik itu salah satunya dimulai dari penyiaran. Karena sebelum terlihat di publik, masyarakat sudah kenal lewat audio,” kata penyiar Best FM ini.
Penyiar ini mengungkapkan, keluarga di rumah membuatnya termotivasi untuk terus menjadi lebih baik dengan berlatih bersama mentor vokal profesional. Selain itu, hal yang membuatnya bertahan sampai di minggu ke 6 adalah Bebi yang yakin bahwa Agus memiliki potensi di dunia musik. “Dia yang kemudian menyadarkan saya bahwa bermusik itu susah. Karena dengan lagu kita harus bisa mengedukasi masyarakat,” kata penyanyi beraliran main pop ini.
Kali pertama Agus mengikuti audisi di bulan september 2012 di Hotel Aston, bersama seorang teman bernama Yudha. “Awalnya kupikir fear factor,” tutur pria bernama lengkap Agus Hafiluddin ini sambil bercanda. Kala itu mereka menyiapkan sebuah lagu dan sudah latihan termasuk berbagi not dan lirik. Rupanya, saat di Venue audisi mereka diminta para juri untuk menyanyikan empat lagu. “Pastinya itu butuh waktu lagi untuk latihan, tapi ya tidak sempat. Jadi kami sepakat untuk Solo (menyanyi sendiri, Red),” kisahnya. Akhirnya, justru Agus-lah yang kala itu menyanyikan lagu Hope, lolos audisi.
Kata pria yang pada tahun 2007 pernah ikut Indonesian Idol namun tak lolos ini, dia menyukai Brian McKnight, Michael Buble, U2, Boys II Men dan beberapa aliran musik black soul lainnya. Namun dia mengaku tidak berkiblat dengan siapapun. Dia hanya belajar bagaimana tampil di panggung dengan attitude yang baik, berkomunikasi dengan para penonton dan penikmat musik, termasuk bagaimana cara menghadapi orang lain di luar panggung.
Sebulan kemudian, dia menerima telepon memberi kabar bahwa dirinya lolos audisi X-Factor. Pikirnya itu ulah jahil teman-temannya yang bercanda dan menjahilinya. Kemudian dia diminta untuk mengecek email dan ternyata benar. Jadilah dia diberangkatkan ke Jakarta untuk mengikuti proses selanjutnya. “Yang membuat saya berat meninggalkan Balikpapan saat itu, saya harus meninggalkan istri dan anak di rumah,” katanya yang saat lolos menyisihkan 100 ribu orang, hingga bisa masuk menjadi finalis di 13 besar.
Perdananya berada di atas panggung besar di hadapan jur-juri terkenal dengan jam terbang yang sudah tidak perlu diragukan lagi, dirinya merasa seperti someone to be somebody. “Dulu cuma bisa melihat di TV, bermimpi untuk tampil di panggung besar. Ternyata terwujud dan itu keberuntunganku,” kata Agus yang saat itu jantungnya berdebar kencang dan kakinya terasa kaku.
Ditambah lagi dengan komentar Ahmad Dhani yang cukup membuat mentalnya drop. “Wah ini keren nih. Kamu baru sikat gigi ya?” kata Ahmad Dhani, lantas tertawa saat itu. Namun dia berusaha tenang dan terbukti mampu menyelesaikan lagu. “Suaramu itu kurang ajar,” kata Ahmad Dhani yang terkagum dengan suara berat Agus. Hal serupa dikatakan juga oleh Bebi Romeo. “Suaramu adalah anugerah,” ucap Bebi padanya.
Singkat, dibocorkannya mengenai kedekatan psikologis yang terjadi di antara dirinya dengan Bebi Romeo. Kata dia, penyanyi senior yang namanya sudah populer di masyarakat itu tak jarang memberinya masukan positif dan nyaris tidak pernah memberikan kritik yang menjatuhkan. “Tiap kali Saya merasa kekurangan di nada lagu, papa Bebi selalu memberikan inovasi baru dan menjadi spirit tersendiri. Saya pasti bisa,” bebernya yang saat karantina Gala Show menjadi anak asuh Papa Bebi.
Selama bergabung bersama 12 finalis lainnya dari berbagai daerah, diakui Agus awalnya agak susah beradaptasi karena karakter. Namun ia berusaha untuk menjalin pertemanan. Setelah berhasil, pertemanan yang akrab itu justru membuat dirinya tidak merasa memiliki saingan. “Semua berkarakter. Semuanya bagus dan punya potensi masing-masing. Aku mengagumi dan menghargai itu” kata pria yang pernah ngamen dari cafe ke cafe ini. Pengalaman luar biasa yang tidak bisa aku lupakan adalah perubahan positif. Kata dia, dulunya dirinya bersifat egois dan tidak mau mendengarkan orang lain, kini lebih bisa menerima masukan dan saran dari orang lain.
Kata penyuka gelang-gelang etnis ini, dirinya tidak belajar menyanyi. Hanya saja mulai kelas 4 SD dia memang suka menyanyi di kelas hingga dimarahi guru, bahkan terbawa sampai SMP. Lantas, sejak SMA dia mulai mencoba kompetisi. Katanya, di tahun 2000 dia pernah meraih Juara II tingkat kota. “Aku bukan pengoleksi piala. Yang penting nyanyinya tulus,” tutur Ayah satu anak ini.
Saat tiba di kampung halaman Balikpapan sepekan lalu (3/2013), beberapa kerabat dan tetangga nyaris bertandang ke rumahnya setiap hari. Namun baginya fans adalah pendukung, bukan penggemar. “Mereka bukan fans, tapi supporter,” ucap pria yang berniat membangun rumah pribadi itu. Dia tidak menampik adanya kecemasan dirinya kini menjadi milik publik. Dia tidak ingin menjadi seseorang ibarat kacang lupa pada kulitnya.
Berkaca pada pengalaman banyak artis yang bahkan lupa dengan keluarga di puncak kejayaan, maka Agus berusaha untuk tetap low profile. Dirinya yakin sudah belajar banyak dari orang lain, yang setelah menjadi artis lupa keluarga dan segalanya. Dia akan berusaha menghindari hal itu dan menjaga pribadi yang sama. “Saya juga berusaha menjaga attitude untuk Balikpapan,” ujar penyuka warna peach dan hitam dan khas dengan syal yang selalu melingkar di lehernya.
---
AGUS HAFILUDDIN
Kelahiran : Balikpapan, 12 Agustus 1985
Istri : Wiranda Puspa Ningdita (30)
Anak : Arietha Azalea Rasyid
Orangtua : (Alm.) Abdul Rasyid dan Halija
Pendidikan :
SD 020 Balikpapan Selatan
SMP 10 Balikpapan Selatan
SMK 4 Balikpapan Selatan
Selasa, 03 Desember 2013
Selasa, 26 November 2013
Rindu Untuk Ayah
Lagi.
Gelak tawa tiba-tiba
terhenti, saat teringat kepingan-kepingan kenangan yang tidak bisa kembali
meski ditukar dengan nominal uang. Sighh!
Bodoh.
Seperti merasa
terombang-ambing, saat bayangan memori itu melintas begitu saja. Ada tawa
bahagia, kesombongan manusia, dan senyum bijaksana yang tidak bisa dihapus
begitu saja dari ingatanku. Maaf Yah...
Masih saja.
Aku masih bisa
merasakan Ayahku duduk tepat di hadapanku. Bertopang kaki dengan gayanya yang
kadang sombong. mungkin itu untuk menjaga wibawanya. kadang juga dengan gelak
tawanya yang membahana kemana-mana. mungkin juga itu untuk memberitahukan ke
semua orang bahwa dia bisa bersahabat dengan anak perempuannya yang jarang bisa
dilakukan Ayah lainnya.
Tadi sore, aku duduk
di pojok cafe, memesan sepotong kue dan secangkir kopi yang cukup mahal untuk
ukuran dompet di akhir bulan seperti ini. Masih sangat terasa, dulu... saat
Ayah masih ada, berdiri di balik bayangannya, aku ikut sombong. kuakui itu.
Sering. Aku sering
kali makan makanan enak dan tidak murah, tak pernah khawatir bagaimana cara
membayarnya. Karena ada Ayah. Aku bisa keluar masuk hotel berbintang, tak
pernah ragu bagaimana cara melunasinya. Aku bisa menunjuk barang yang aku suka
di pusat perbelanjaan dengan brand ternama di jaman itu, semuda menjentikkan
ujung jemari untuk mendapatkannya.
Lihat.
Kini saat Ayah pergi
ke surga, meninggalkan aku dan keluarga. Aku berusaha berdiri sendiri. kadang
berusaha mengerti bagaimana rasanya menjadi dia. ternyata tidak semudah yang
aku bayangkan.
Aku masih anak manja
kesayangannya. Tapi mungkin itu dulu. sekarang, aku akan bilang "Aku
pernah jadi anak manja Ayahku".
Ya, tadi sore, aku
memutar memori itu, tanpa Ayah. Sendiri aja. membayar semuanya sendirian. dan
duduk sendirian. Rasanya, aku ingin bilang ratusan kalimat padanya... seperti,
"Ayah, aku sedang belajar menjadi dirimu," atau "Ayah, dulu aku
selalu ada di balik bayang-bayangmu. Sekarang aku bisa sombong dengan caraku
sendiri," atau bisa juga "Ayah, lihat aku sekarang. aku bisa dan
berani duduk sendirian di cafe, membeli cemilan mahal yang dulu Ayah
tertawakan." hhh... ya.
Sudah, itu saja.
Nanti aku buatkan
lagi puisi atau cerita bagus buat Ayah.
Berikan saja restumu
agar aku bisa berdiri tegak dan gagah sepertimu.
Ayah selalu tahu, I
love you Dad.

Anakmu,
NENO
Sabtu, 29 Desember 2012
Lembaran Baru -- 29.12.2012
Hei,
Aku tidak pernah melakukan ini sebelumnya
Kali pertama aku mengungkap apa yang selama ini tidak kuindahkan
Sebelum mengenalmu, aku pernah melihatmu. Seperti de javu.
Saat bertatap muka dengan matamu, aku seperti bingung dan ingin tertawa.
Seperti magnet yang menggelitik ulu hatiku, tentang konektifitas gelombang tak berwujud
Seolah ingin langsung bilang, "Jadilah separuh hatiku, supaya lengkap"
Yang aku tahu cuma bagaimana caranya perasaan ini terjaga di dalam satu hati
Dan entah kenapa, tidak pun aku mengenalmu, hatiku malah makin memilihmu
Kalau saja diperkenankan hati ini bicara, bolehkah aku memilih kamu sebagai pelabuhan hatiku yang tidak jelas kemana arah anginnya
Agar aku punya tujuan,
Belajar duduk manis,
memahami tentang kamu,
Aku memang tidak bisa berjanji yang manis-manis
Tapi aku selalu berusaha melakukan yang terbaik yang aku bisa
Kenali siapa diriku,
Aku akan menjaga hatimu,
Menghapus airmatamu,
Menunggumu kembali saat jauh,
Mendoakan setiap langkah kaki dan hela nafasmu
Menjadi pelengkap dalam hidupku
Sekuat yang kita bisa
Kupastikan setiaku dan kesederhanaanku
Menjadi bekal kepercayaanmu,
Izinkan aku memberikan hati ku yang tidak berbentuk ini buat kamu
Balikpapan, 29 Desember 2012
------------------------------------------ ###
Neno Rachmadana
Penulis lepas,
Sedang terikat kontrak kerja sebagai wartawan surat kabar harian
Aku tidak pernah melakukan ini sebelumnya
Kali pertama aku mengungkap apa yang selama ini tidak kuindahkan
Sebelum mengenalmu, aku pernah melihatmu. Seperti de javu.
Saat bertatap muka dengan matamu, aku seperti bingung dan ingin tertawa.
Seperti magnet yang menggelitik ulu hatiku, tentang konektifitas gelombang tak berwujud
Seolah ingin langsung bilang, "Jadilah separuh hatiku, supaya lengkap"
Yang aku tahu cuma bagaimana caranya perasaan ini terjaga di dalam satu hati
Dan entah kenapa, tidak pun aku mengenalmu, hatiku malah makin memilihmu
Kalau saja diperkenankan hati ini bicara, bolehkah aku memilih kamu sebagai pelabuhan hatiku yang tidak jelas kemana arah anginnya
Agar aku punya tujuan,
Belajar duduk manis,
memahami tentang kamu,
Aku memang tidak bisa berjanji yang manis-manis
Tapi aku selalu berusaha melakukan yang terbaik yang aku bisa
Kenali siapa diriku,
Aku akan menjaga hatimu,
Menghapus airmatamu,
Menunggumu kembali saat jauh,
Mendoakan setiap langkah kaki dan hela nafasmu
Menjadi pelengkap dalam hidupku
Sekuat yang kita bisa
Kupastikan setiaku dan kesederhanaanku
Menjadi bekal kepercayaanmu,
Izinkan aku memberikan hati ku yang tidak berbentuk ini buat kamu
Balikpapan, 29 Desember 2012
------------------------------------------ ###
Neno Rachmadana
Penulis lepas,
Sedang terikat kontrak kerja sebagai wartawan surat kabar harian
Senin, 24 Desember 2012
Senandung Rindu di Perbatasan Kaltim
CERPEN :
Senandung
Rindu di Perbatasan Kaltim
Wartawati Idealis dan Tentara Nasionalis
Blackberryku
berdering nyanyian akustik merdu, di layar muncul nama Kesya. Merekah
senyumku melihat layar ponsel menunjukkan wajah hitam manis dan pipi
tembemnya. Haha, mungkin sudah beberapa bulan aku tidak mendengar
suaranya yang berkekuatan mesin kereta api, cepat dan berisik.
“Heh,
nona wartawan. Ngilang kemane aje lo? Lo lupa sama kita di mari?
Sombong amat kagak ada kabar sekali-kali
kemari,” oceh Kesya dengan logat betawi modern.
“Ah elah, sombong
apaan sih. Pan lo yang katanya sibuk. Gue mah standby aje kalo
lo mau curhat,” balasku sambil meniru intonasinya yang agak
meninggi.
Terdengar suara tawa
gadis sebayaku itu di seberang telepon, membuatku ikut tertawa, sambil
sesekali melihat ke arah aspal jalan di bawah tiang yang kupanjat,
saat ini.
“Lo harus kosongin
jadwal minggu depan buat gue. Kagak pake banyak alesan penipuan
sibuk, lo harus ke Jakarta,” katanya tiba-tiba.
“Kenapa
emang? Kangen banget sama gue? Kangen aja,
apa kangen banget?” kugoda dia.
“Astaga!
Lo lupa, kalau gue mau nikah sama Ragil, sabtu depan? Ck,
Dania, kan gue udah tag di twitter, mindtalk, facebook juga,” nada
suaranya terdengar gemas dan tampaknya serius.
Mimik wajahku
berubah ikut serius, sempat menghentikan gerakan kakiku yang sudah
menyerupai monyet kota. “Oh, iya. Inget kok, jadi lo nelpon gue
cuma mastiin gue dateng kan? Iye, gue dateng lah. Pernikahan langka
sepanjang masa mana mungkin gue lewatin,” kataku supaya dia tenang.
“Bener ye, nyai.
Meskipun lo bilang pernikahan langka sekalipun, kagak masalah. Yang
penting lo dateng saksiin gue di pelaminan sama Ragil. Janji?”
ujarnya yang tumben pasrah, setelah kuejek bercanda.
Luluh juga aku mendengar dia memohon. “Oke, sabtu depan, jadwal gue bisa geser. Cuma wawancara pejabat, bisa dihandle lah. Gue janji Kes. Gue bakal dateng, meskipun nanti gue kagak bawa pendamping ke acara lo,” kataku bersemangat.
“Kok lo curhat
sih, nyai? Kalo jomblo kagak perlu ajak-ajak gue. Gue mah udah
pernah, bosen,” suara Kesya kembali berkekuatan.
"Ah, belagu," tampikku.
"Ah, belagu," tampikku.
Kemudian kami
tertawa bersama, memecah suasana jalanan yang tidak lagi kupedulikan.
Riang rasanya hatiku akan berjumpa lagi dengannya dan kawan-kawan
lainnya setelah dua tahun lamanya, empat hari lagi.
Hup!
Mendarat sepasang kakiku dengan kompak, menjajak aspal jalan, seusai memanjat tiang reklame setinggi tiga meter di sebuah jalan besar di dekat lampu merah. Tabrakan sebuah truk kuning dengan mobil tronton di jalan simpang empat, sudah berhasil dikendalikan oleh polisi laka lantas. Untung saja aku datang tepat waktu lalu dengan sigap dan sok berani, langsung memanjat ke atas tiang jumbo di dekat pos polisi, yang menghadap ke tempat kejadian perkara (TKP). Lebih dari seperempat jam memeluk tiang besi yang sekiranya berdiameter 30 sentimeter itu, hampir sama seperti lari sprint lima kilometer sambil dikejar pimpinan redaksi.
Mendarat sepasang kakiku dengan kompak, menjajak aspal jalan, seusai memanjat tiang reklame setinggi tiga meter di sebuah jalan besar di dekat lampu merah. Tabrakan sebuah truk kuning dengan mobil tronton di jalan simpang empat, sudah berhasil dikendalikan oleh polisi laka lantas. Untung saja aku datang tepat waktu lalu dengan sigap dan sok berani, langsung memanjat ke atas tiang jumbo di dekat pos polisi, yang menghadap ke tempat kejadian perkara (TKP). Lebih dari seperempat jam memeluk tiang besi yang sekiranya berdiameter 30 sentimeter itu, hampir sama seperti lari sprint lima kilometer sambil dikejar pimpinan redaksi.
“Dania, tulisanmu
bagus. Saya suka. Tapi...,” itu yang dikatakannya setiap pagi saat
menegurku. “Bahasamu ini kurang berani. Kamu wartawan! Tidak perlu
ragu kalau memang harus menentang orang pemerintahan yang tidak benar
kerjanya. Itu uang rakyat taruhannya,” dia berkata tegas dan
lancar.
Aku hanya diam membisu kalau sudah begitu katanya, pimpinan berita Kaltim News, salah satu media cetak harian terpopuler di pulau Borneo ini.
Aku hanya diam membisu kalau sudah begitu katanya, pimpinan berita Kaltim News, salah satu media cetak harian terpopuler di pulau Borneo ini.
Nyaris dua tahun aku
menjalani profesi yang memang terkenal menantang bahaya, apalagi
kalau melihat diriku sebagai perempuan. Usiaku juga sudah bukan
remaja lagi, seperempat abad, dua bulan lalu.
Bersama motor kesayanganku, melintas kota kelahiranku yang baru saja kulihat lagi setelah lebih dari lima tahun kutinggal merantau di Jakarta. Awalnya cukup berat menjalani pekerjaan ini, apalagi aku harus meninggalkan sahabat-sahabatku di kota Jakarta. Mereka selalu memberiku kekuatan moral untuk bertahan di kota megapolitan sejuta godaan glamour itu. Kini aku kembali ke kota minyak ini, karena mutasi kantor pusat. Jelas, harus professional.
Bersama motor kesayanganku, melintas kota kelahiranku yang baru saja kulihat lagi setelah lebih dari lima tahun kutinggal merantau di Jakarta. Awalnya cukup berat menjalani pekerjaan ini, apalagi aku harus meninggalkan sahabat-sahabatku di kota Jakarta. Mereka selalu memberiku kekuatan moral untuk bertahan di kota megapolitan sejuta godaan glamour itu. Kini aku kembali ke kota minyak ini, karena mutasi kantor pusat. Jelas, harus professional.
Melangkah santai aku
keluar dari ruang redaksi, ruang kerja para wartawan dan berita
diolah dari lapangan. “Dania,” terdengar suara yang tidak asing
di telingaku.
Aku menoleh ke sumber suara yang tak lain, suara pak Kusnul, pimpinan redaksi. “Ya, pak,” jawabku lalu menghampirinya.
Aku menoleh ke sumber suara yang tak lain, suara pak Kusnul, pimpinan redaksi. “Ya, pak,” jawabku lalu menghampirinya.
“Kamu tidak lupa
kan, minggu depan kamu evaluasi tahunan?”
Aku mengangguk
mengiyakan pertanyaannya.
“Bagus. Sebelum
itu, kamu saya tugaskan ke perbatasan Kaltim di Malinau ya. Berangkat
besok pagi sekali. Tugasmu pantau saja, bagaimana kabar di daerah
sana. Petik apa yang menarik, bawa pulang,” paparnya.
Seketika aku
terdiam. Rasanya, untuk menelan air liur di ujung kerongkongan saja
sulit.
Perbatasan? Di benakku langsung tergambar situasi, jauh dari keramaian, kebisingan kendaraan, pepohonan lebat, rumah beralas tanah dan berdinding kayu, air sungai yang dipakai beramai-ramai sekampung, juga tidak ada listrik! Berangkatnya saja, membutuhkan waktu dua hari. Belum lagi membutuhkan waktu beberapa hari untuk membaur bersama penduduk. Bahkan memakan dua hari pula, untuk kembali ke kota ini. Itu yang kuingat saat wartawan senior kantor pernah berbagi cerita saat dikirim tugaskan ke pedalaman di perbatasan Kaltim.
Perbatasan? Di benakku langsung tergambar situasi, jauh dari keramaian, kebisingan kendaraan, pepohonan lebat, rumah beralas tanah dan berdinding kayu, air sungai yang dipakai beramai-ramai sekampung, juga tidak ada listrik! Berangkatnya saja, membutuhkan waktu dua hari. Belum lagi membutuhkan waktu beberapa hari untuk membaur bersama penduduk. Bahkan memakan dua hari pula, untuk kembali ke kota ini. Itu yang kuingat saat wartawan senior kantor pernah berbagi cerita saat dikirim tugaskan ke pedalaman di perbatasan Kaltim.
Namun yang lebih
lagi membuatku benar-benar terbisu, belum genap empat jam lalu aku
berjanji pada Kesya untuk menyaksikan pernikahannya dengan Ragil,
produser muda yang ditaksirnya duluan sejak lulus kuliah.
“Seharusnya saya
sudah kabari kamu sejak kemarin. Tapi saya kemarin masih di
Samarinda dan baru ingat sekarang,” lanjut pak Kusnul.
Aku mulai gelisah,
hanya memberikan senyum tipis.
“Tenang saja,
semua sudah diurus. Tiket pesawat, akomodasi, pokoknya semuanya sudah
clear. Tinggal berangkat,” katanya, sambil menyodorkan amplop
putih.
Ah, benar katanya!
Sambil tersenyum dia
berkata, “Saya percaya, kamu sudah bisa jadi redaktur sepulang dari
sana. Promosi saya buat kinerja kamu,” dan ditepuknya lenganku
pelan, lalu bergegas pergi.
Aku menerima amplop
itu, tanpa tahu harus berkata apa, selain, “Siap, komandan,” lalu
menghela nafas lesu, meninggalkan kantor.
***
Perjalanan pertama belum terasa melelahkan, sampai ke kota Tarakan, di kampung Data Dawai, menggunakan pesawat charter dengan waktu tempuh perjalanan selama 45 menit, yang hanya bisa menampung muatan sebanyak 300-400 kilogram, atau maksimal 5 orang. Bersama tiga orang anggota TNI Kodam VI/Mulawarman yang juga bertugas untuk tinggal beberapa waktu di pedalaman, kami melalui jalan darat, tentu saja dengan mobil lapangan -double cabin-. Kami menempuh resiko jalan berlubang, berlumpur, terjal, dan rusak, hingga sampai di sebuah kampung.
Dari sana kemudian naik kapal, dan menitipkan mobil di kampung. Setelah kapal tersebut sampai di Long Bagun, kami menginap di tenda, baru kemudian melanjutkan perjalanan melewati arung jeram udang bertikungan tajam. Baru setelah itu, ada pos yang menyediakan kapal kecil, sehingga kami harus bertukar ke kapal kecil tersebut untuk menuju Tiong Ohang, kabupaten kecil kampung Long Apari. Aman rasanya bepergian bersama tiga pria bersenjata ini. Ada satu yang tampan. Ups!
Panjang
perjalanan sudah memakan waktu lebih dari 30 jam. Dan aku semakin
pasrah, melihat ponselku tak menangkap sinyal sama sekali, belum juga
kukabari pada Kesya aku tak bisa menghadiri pesta bahagianya. Masih
sekali lagi kapal lagi untuk bisa tiba di Ulu Bahau. Daerah tujuan
yang kutuju. Setelah dari Long Pujungan
mudik lagi ke arah hulu barulah tiba di Long Alango.
Wilayah kecamatan, yang juga merupakan satu kawasan adat suku dayak
Kenyah yang dipimpin seorang Kepala Adat Besar Ulu Bahau. Ulu Bahau,
salah satu daerah perbatasan antara Indonesia dan Malaysia di
Kecamatan Hulu Bahau, Kabupaten Malinau, Kalimantan Timur.
Kubongkar bekalku,
memasang lensa tele nikkor berjarak 70-300 meter ke depan. Berjalan
kaki kami menyusuri jalan-jalan setapak menuju rumah kepala adat.
Sesekali aku mengambil gambar, langsung merangkai alur cerita
perjalanan di kepalaku yang rencananya akan kubuat menjadi berita
indepth feature.
Kesukaanku pada alam mampu merobohkan kegelisahanku pada pesta Kesya, meskipun masih saja terhantui rasa bersalah. Tak henti kuucapkan dalam hati, “This is amazing. Shit, Ini luar biasa,” sampai bulu kudukku naik turun. Ini pengalaman pertamaku tugas ke perbatasan Indonesia-Malaysia.
Kesukaanku pada alam mampu merobohkan kegelisahanku pada pesta Kesya, meskipun masih saja terhantui rasa bersalah. Tak henti kuucapkan dalam hati, “This is amazing. Shit, Ini luar biasa,” sampai bulu kudukku naik turun. Ini pengalaman pertamaku tugas ke perbatasan Indonesia-Malaysia.
Tidak seperti
bayangan negatifku sebelumnya. Penduduk di sini ramah. Mereka
menyuguhkan segala macam sambutan dan suguhan makanan dan buah-buahan. Terutama bagi
aku dan ketiga tentara lainnya yang juga pertama kali diterjunkan
kemari. Usai berkenalan dengan petinggi desa, dan beberapa warga
yang ikut hadir di pendopo desa, aku melepaskan diri dari rombongan.
Memulai tugasku, merangkum situasi menjadi sebuah kabar terkini
tentang wilayah yang selama ini masih menjadi kontroversi yang tidak
ada habisnya.
Umumnya,
di perbatasan, 90 persen penduduk, mata pencariannya
sebagai petani. Mereka menggantungkan hidup pada ladang. Namun, ada
juga yang menggantungkan hidup pada hasil kerajinan. Kehidupan di
sini masih natural, alami, sangat menyatu dengan alam. Jarang sekali
ada hotel atau penginapan, kamar mandinya pun di beberapa tempat,
masih tidak punya di sekitar rumah. Sehingga
sungai adalah media pengganti kamar mandi.
Berdiri aku di atas
batu besar, menghadap lurus ke aliran sungai, mengantar kepergian
matahari tenggelam di ufuk timur. Menyalang mata kananku membidik
pemandangan dari balik lensa. Berkali-kali kulepas dan pasang kembali
kamera di depan mataku, menyaksikan langsung salah satu sunset
terindah yang pernah kulihat, selain di Pantai Senggigi, Lombok, Nusa
Tenggara Barat tahun lalu. Tak sengaja kutarik senyumku begitu lepas,
saking mengagumi anugerah Tuhan yang tampil saat ini.
Usai itu, aku
berbalik badan berniat kembali ke rumah salah satu penduduk yang
kutumpangi untuk bermalam. Terhenti langkahku, melihat situasi kurang
dari 50 meter di depanku.
Seorang tentara sedang bermain sepak bola bersama anak-anak yang sekiranya berusia kurang dari 10 tahun. Terdengar tawa riang di balik gerakan-gerakan lincah mengoper dan menendang ke sana kemari. Senyumku merekah lebar begitu kusadari, tentara itu mengikat sarung di pinggangnya, dan masih mengenakan kopiah di kepalanya. Aku melirik jam dan memahami, pastinya tentara itu usai menunaikan sholat maghrib. Lalu dia melihat ke arahku dan tersenyum. Manis!
Seorang tentara sedang bermain sepak bola bersama anak-anak yang sekiranya berusia kurang dari 10 tahun. Terdengar tawa riang di balik gerakan-gerakan lincah mengoper dan menendang ke sana kemari. Senyumku merekah lebar begitu kusadari, tentara itu mengikat sarung di pinggangnya, dan masih mengenakan kopiah di kepalanya. Aku melirik jam dan memahami, pastinya tentara itu usai menunaikan sholat maghrib. Lalu dia melihat ke arahku dan tersenyum. Manis!
***
Hari kedua. Meskipun dalam pergaulan sehari-hari masyarakat yang berasal dari keturunan bangsawan (paren) maupun yang berasal dari keturunan masyarakat biasa (panyin) dapat berbaur dan hidup berdampingan secara egaliter, namun dalam penerapan budaya tertentu, masyarakat Kenyah di Ulu Bahau masih sangat memperhatikan mana yang termasuk dalam keturunan bangsawan atau bukan. Hal ini terlihat jelas dalam penelusuranku tentang penggunaan Saung Seling dalam kehidupan sehari-hari. Bagi masyarakat yang merasa dirinya bukan keturunan bangsawan, jangankan memakai, untuk membuatnya pun mereka merasa tak pantas. Selain terkena sangsi sosial juga akan terkena sangsi adat dari leluhur yaitu "Parit" atau bisa mendapat "Bala".
Di
kesunyian malam, hatiku bertarung melawan rasa rindu yang hebat.
Entah berapa bilangan detik yang bisa kurangkai untuk menjahit memori
bersama teman-teman seperjuanganku dulu di Ibu kota. Teringat aku
saat kali pertama bertemu Kesya, Degina, Hamzah dan Wahyu, di kampus
swasta, jurusan berbeda. Namun dari perbedaan itulah muncul banyak
cerita dan berbagai situasi kami lalui bersama. Susah, senang, sakit,
dan bahagia saat kelulusan sarjana kami rasakan, meski sesekali kami
juga pernah mengalami pertengkaran. Persahabatan
itu seperti rujak, manis asam asin bercampur jadi satu di dalam
mulut. Hancur terkunyah namun mampu bertahan menghadang rasa lapar,
seperti juga menahan ego yang mengalir dalam diri setiap manusia.
Kutatap langit
bertabur bintang yang meski tampak kecil, namun mampu bersinar di
pekat langit. Merenung dalam kesendirian, seolah berbincang bersama
dingin malam dan suara jangkrik, yang berdendang berkicau di tengah
pepohonan. Tak berani aku melirik jam tanganku. Karena besok adalah
hari pernikahan sahabatku, yang sudah kulanggar janji padanya untuk
hadir sebagai saksi. Aku ingin marah, tapi tidak bisa. Pekerjaan dan
reputasiku sebagai taruhannya. Hanya butir airmata dan desah nafas
tak beraturan sebagai lambang rasa piluku kini, karena aku juga
manusia berhati dan perasaan.
Sepotong kain tebal membalutku dari belakang. Spontan aku menoleh dan menemukan sesosok lelaki langsung duduk di sampingku. “Boleh saya hapus airmata kamu?” tanyanya. Membuatku tersadar, mata dan pipiku sudah benar-benar membanjiri wajahku. Meski jemarinya berkulit kasar dan berotot, saat menyentuh wajahku tanpa senyum, malah terasa lembut. Ternyata, tentara yang terkenal garang dan tampak galak, hanya luarnya saja. Dia juga makhluk sosial yang punya rasa empati untuk orang lain.
“Pasti kamu rindu
kehidupan kota,” katanya, memecah kesepian. ''Saya juga rindu
keluarga, sudah 6 tahun saya tidak bertemu mereka,'' curhatnya.
Aku belum bicara
sekata pun.
Dia malah melempar
senyum dan asik bercerita tentang kehidupan tentara. Dia menyayangkan
pudarnya rasa nasionalisme pada generasi muda sekarang. “Anak-anak
sekolah sekarang kalau ditanya, siapa itu pangeran Diponegoro, Cut
Nyak Dien, Sultan Hassanudin, dan sebagainya, mayoritas pasti tidak tahu.
Mereka lebih hapal nyanyian Korea dan artis bugil Holywood, daripada
pahlawan negri mereka sendiri,” tuturnya lalu memperlebar
senyumnya.
Aku terdiam.
Mungkin, salah satunya adalah aku, tapi aku bukan penggemar nyanyian
Korea. Menurutnya, sejarah militer kita telah terkikis kekuatan era
modernisasi, yang seolah menguasai generasi anak-anak untuk
mengetahui tentang sejarah negara kita. Katanya, mereka seharusnya
perlu tahu juga bahwa dulu, tentara berperang sampai titik darah
penghabisan supaya kita semua bisa merdeka. Bisa duduk manis dengan
tenang dan pergi ke luar rumah tanpa rasa cemas.
Hei, pria di
hadapanku ini seketika mampu memberiku kehangatan, hanya dengan
tatapan matanya dan suaranya bercerita. Mataku terbuka, tentang
bagaimana menghargai kehidupan di nusantara. Tanpa tentara, aku dan
generasi setelahku pun seharusnya mengerti, pasti kita bukan apa-apa.
Tentara mengabdikan jiwa raganya untuk jutaan umat manusia,
melindungi dan tetap mendekatkan diri kepada Tuhan. Terkesan aku,
bukan hanya wartawan yang menentang bahaya, tidak sebanding dengan
tentara, lebih beresiko dan lebih berempati kepada masyarakat.
Mata kami bertautan
saling pandang yang semakin dalam. Jantungku malah berdegup kencang
saat dingin malam terasa semkin menusuk ke kulit, refleks membuat
sekujur tubuhku gemetar. Dinginnya melebihi suhu pegunungan saat aku
bertualang di Gunung Lawu, perbatasan Jawa Timur dan Jawa Tengah. Diraihnya
tanganku, lalu diusapnya cepat dengan kedua telapak tangannya, hingga
perlahan tanganku yang rasanya nyaris beku mulai menghangat perlahan.
Aku malah tertawa dan melihat embun keluar dari mulutku sendiri,
“Maaf, merepotkan,” ucapku padanya.
“Sebaiknya kita
masuk saja ke dalam rumah. Nanti kamu bisa sakit kalau keras kepala
bertahan di sini,” bujuknya padaku.
Tak bisa berkata
lagi, aku hanya bisa mengangguk menurutinya. Aku menjejakkan kaki di
tanah berumput, namun malah terjatuh karena tak kuasa menahan kakiku
yang masih gemetar kedinginan.
Sigap dia menangkap
merangkulku ke dalam peluknya, “Biar aku gendong ya,” ujarnya.
Bohong kalau aku bilang 'bisa' padanya, maka hanya anggukan kepala yang
kulakukan mengiyakan.
Maka sepanjang
perjalanan menuju rumah penduduk, aku memeluknya dari gendongan di
punggungnya yang bidang. Sejenak merasakan hangat yang tak pernah
kurasakan sebelumnya saat berdekatan dengan seorang pria. Bahkan, aku
lupa menanyakan siapa namanya, setelah dia pergi kembali berkumpul
bersama teman-temannya di posko Tentara Nasional Indonesia.
***
Kudengarkan si tentara bercerita, saat kami menapaki jalan rerumputan dari desa ke desa. Ekspresi wajah dan intonasi suaranya yang berat membantuku merasakan bagaimana aktivitas yang telah dilalui para Tentara di masa lalu. Tak luput diceritakannya sejumlah koleksi senjata yang pernah dipakai para prajurit TNI dalam pertempuran mempertahankan Indonesia, terutama wilayah pulau Borneo. Seperti SMR s6-43, Mortir 81, SS 1 CAL 55 mm, Jet laras panjang CAL 5,56 mm, beserta belasan jenis peluru sebagai amunisi peralatan senjata perang, mulai dari ukuran ruas ibu jari, sampai ukuran pinggang manusia. Termasuk juga senjata tradisional khas Kalimantan, tombak, Mandau dan samurai. Percakapan kami terjalin dua arah, karena pengetahuanku yang setengah-setengah tentang kemiliteran terjawab olehnya. Serta merta pembahasan tentang pangkat TNI AD mulai dari pangkat paling bawah (Prada) Tamtama sampai pangkat tertinggi (Jenderal Besar) Perwira Tinggi, juga kisah G30S/PKI.
Pembahasan kami
terus berlanjut seolah tanpa ujung.
Kami melintasi aliran-aliran sungai dan pepohonan rindang, sesekali juga berbincang dengan penduduk. Mudahnya penduduk melakukan transaksi perdagangan di Malaysia, belanja pakaian dan sembako. Mereka lebih memilih melintasi perbatasan ke Malaysia, daripada harus menunggu lamanya jadwal penerbangan yang hanya ada flight 2 minggu sekali, belum lagi mahalnya harga tiket, lamanya perjalanan dan sebagainya.
Sementara untuk transaksi di Malaysia, mereka hanya perlu mengendarai sepeda motor dan menyeberangi pos perbatasan. Lebih praktis! Malaysia masih sangat mengambil peran dalam kehidupan masyarakat di perbatasan. Inilah keadaan perbatasan negara kita yang 'galau'. Beberapa kali aku membaur, mereka sampai punya semboyan, 'dada kami garuda, perut kami Malaysia'. Menurutku, ini miris!
Kami melintasi aliran-aliran sungai dan pepohonan rindang, sesekali juga berbincang dengan penduduk. Mudahnya penduduk melakukan transaksi perdagangan di Malaysia, belanja pakaian dan sembako. Mereka lebih memilih melintasi perbatasan ke Malaysia, daripada harus menunggu lamanya jadwal penerbangan yang hanya ada flight 2 minggu sekali, belum lagi mahalnya harga tiket, lamanya perjalanan dan sebagainya.
Sementara untuk transaksi di Malaysia, mereka hanya perlu mengendarai sepeda motor dan menyeberangi pos perbatasan. Lebih praktis! Malaysia masih sangat mengambil peran dalam kehidupan masyarakat di perbatasan. Inilah keadaan perbatasan negara kita yang 'galau'. Beberapa kali aku membaur, mereka sampai punya semboyan, 'dada kami garuda, perut kami Malaysia'. Menurutku, ini miris!
Kami melintasi enam
desa di bentangan Sungai Bahau yang masuk dalam wilayah adat Ulu
Bahau. Desa Apau Ping, Long Berini, Long Kemuat, Long Alango sebagai
ibukota Kecamatan, Long Tebulo dan Long Uli. Keenam desa ini, umumnya
dihuni oleh empat sub-etnik Kenyah yaitu Leppu’ Ke di wilayah Apau
Ping dan Long Tebulo, lalu Leppu’ Ma’ut di Long Alango, Long
Kemuat dan Long Berini, juga Leppu’ Ndang dan Uma Lung di wilayah
Long Uli.
Begitu banyak
potensi di wilayah ini, seperti sumber daya alam dan kerajinannya.
Masih banyak juga mitos dan cerita rakyat yang sarat makna. Hal-hal
yang seperti itu malah punah di daerah kita sendiri. Lantas,
perbatasan itu sebenarnya milik siapa? Indonesia atau Malaysia?
Sementara pada saat pengakuan lahan oleh Malaysia, Indonesia
“mati-matian” berteriak lantang bahwa perbatasan adalah milik
kita, sementara kehidupan mereka di perbatasan ini berjalan lebih
mudah dan “hidup” karena campur tangan Malaysia.
“Lalu dimana empati Indonesia sendiri?” debatku menghangat, sambil menyusulnya melompat dari batu ke batu yang terendam di atas sungai berwarna bening.
“Tidak akan pernah ada habisnya kita membahas perbatasan. Sama halnya ketika kita bicara tentang kesetiaan. Waktu pun tak bisa memastikannya,” katanya bijaksana.
Aku melompat dan terpeleset sedikit, sampai refleks dia merengekuhku dalam rangkulnya. Jantungku berdebar tak karuan. Entah seperti rasa bahagia yang tiba-tiba bergejolak sampai ke ubun-ubun.
Beberapa kali begitu.
“Lalu dimana empati Indonesia sendiri?” debatku menghangat, sambil menyusulnya melompat dari batu ke batu yang terendam di atas sungai berwarna bening.
“Tidak akan pernah ada habisnya kita membahas perbatasan. Sama halnya ketika kita bicara tentang kesetiaan. Waktu pun tak bisa memastikannya,” katanya bijaksana.
Aku melompat dan terpeleset sedikit, sampai refleks dia merengekuhku dalam rangkulnya. Jantungku berdebar tak karuan. Entah seperti rasa bahagia yang tiba-tiba bergejolak sampai ke ubun-ubun.
Beberapa kali begitu.
Kami
melanjutkan perjalanan kembali ke desa tinggal kami, sampai hari
hampir gelap. Tidak berhenti aku tersenyum tiba-tiba setiap mengingat
pria berambut cepak itu. Matanya teduh, senyumnya karismatik, dan
sentuhannya membuatku luluh lantak tanpa perlawanan. Berdiri
kami di atas batu, berhenti melangkah, menatap terbenamnya matahari.
Baru saja mau kubongkar kameraku dari dalam tas, dia berkata, "Jauh
lebih cantik tanpa lensa. Apa adanya lukisan Tuhan,'' kalimatnya membuatku
membatalkan niatku memotret.
Kuturuti kata-katanya, berdiri aku sejajar menatap senja di sampingnya. Ya, langit kemerahan itu sangat indah terpancar dengan mata telanjangku. Terpatri senyumku tanpa kendali, terlebih saat kurasa telapak tangan tentara itu menaut sengaja telapak tangaku dalam genggamnya.
Kuturuti kata-katanya, berdiri aku sejajar menatap senja di sampingnya. Ya, langit kemerahan itu sangat indah terpancar dengan mata telanjangku. Terpatri senyumku tanpa kendali, terlebih saat kurasa telapak tangan tentara itu menaut sengaja telapak tangaku dalam genggamnya.
Tidak ada kata yang sanggup keluar dari mulutku. Menoleh pun bahkan aku tak berani. Dalam hati aku berdialog seakan ada sahabatku di ujung pandangku. “Maaf, aku tidak bisa datang kali ini. Tapi nanti jika Tuhan pun mengijinkan, akan kubawa pria ini ke hadapan kalian,” ---
Minggu, 09 Desember 2012
Balikpapan Menuju Kota Layak Konser Dunia
Menuju
Kota Layak Konser Dunia
Balikpapan
memiliki potensi sebagai kota yang layak menggelar konser berkelas
dunia.
Sayang masih minim fasilitas.
KAMIS
(29/11) besok, Balikpapan kedatangan Michael Learns To Rock (MLTR)
yang menggelar konser di Balikpapan Sport and Convention Center
(BSCC) atau Dome. Ini merupakan kali pertama grup musik pop asal
Denmark tersebut manggung di Kota Minyak.
Berbicara
artis internasional yang tampil di Balikpapan, MLTR bukanlah yang
pertama. Pada 1997 silam, band rock legendaris asal Amerika
Serikat Firehouse manggung di Balikpapan. Ketika itu mereka manggung
di ballroom hotel Dusit (sekarang Le Grandeur). Kemudian pada 20 Juni
2010, band yang digawangi CJ Snare, Bill Leverty dkk ini kembali
menghelat konser di Balikpapan.
Sekitar
1998, grup musik pop dan R&B asal Amerika Serikat Surface
berkesempatan pentas di Balikpapan. Kala itu mereka yang sedang
ngetop dengan hits-nya Shower Me With Your Love tampil
di ballroom hotel Benakutai. Selang beberapa saat kemudian, giliran
Atlantic Starr, yang juga berasal dari Amerika Serikat, manggung di
Benakutai.
Tak
lepas dari ingatan, Graham Russel dan Russel Hitchcock yang tergabung
dalam grup Air Supply tampil di Balikpapan pada 14 Desember 2004.
Grup musik soft rock asal Australia tersebut mengadakan konser di
ballroom hotel Dusit. Ketika itu tiket VIP dijual Rp 350 ribu, dan
kelas 1 Rp 250 ribu.
Kenneth
Bruce Gorelick atau yang lebih dikenal dengan Kenny G juga meramaikan
deretan artis luar negeri yang menyinggahi Balikpapan. Solo saxophone
asal Seattle, Amerika Serikat, ini tampil di Dome Balikpapan pada 14
Desember 2011. Konsernya pada saat itu membuka tiket kelas Platinum
seharga Rp 2,5 juta. Sedangkan kelas Gold Rp 1,5 juta, kelas Silver
Rp 350 ribu, serta Tribune 1 dan 2 Rp 500 ribu.
Dengan
sejumlah musisi internasional yang pernah tampil di Balikpapan bisa
disimpulkan kota ini memiliki potensi menjadi kota layak konser
dunia. Potensi tersebut sudah selayaknya digarap maksimal. Selain
dapat memberikan hiburan berkelas bagi masyarakat, tentunya sejumlah
sektor terutama pariwisata akan mendapat manfaatnya.
Menurut
Yunita Iryani, direktur StarLight Enterprise, potensi Balikpapan
menjadi kota layak konser dunia sangat besar. Apalagi dari segi akses
ada bandara internasional Sepinggan yang memiliki direct flight
dari Singapura dan Malaysia. “Ini akan memudahkan bagi band-band
luar negeri untuk mengambil rangkaian tur di kawasan Asia,”
katanya.
Namun,
dikatakan Yunita, yang menjadi kendala selama ini adalah venue
dan kualitas dari venue itu sendiri. Untuk sementara ini venue
indoor yang paling besar di Balikpapan adalah Dome, dengan
kemampuan memuat 2.000 sampai 3.000 orang. “Nah, biasanya artis
luar negeri, contohnya Coldplay, kalau ada 5.000 penonton baru mau
konser,” katanya. “Namun, hal ini bisa diatasi dengan menggunakan
area outdoor.”
Terkait
dengan potensi Balikpapan menuju kota layak konser dunia, lanjut
Yunita, sebenarnya beberapa agency internasional sudah
menyatakan ketertarikannya membawa artis-artis dunia ke Kota
Minyak. Hanya saja, yang menjadi hambatan adalah jadwal mereka
yang belum tepat untuk mampir. Selain itu, kembali lagi soal
fasilitas “biasa” saja yang dimiliki Balikpapan juga menjadi
kendala.
“Kebanyakan
band atau penyanyi asing itu memiliki standar equipment yang
tidak selalu bisa kita provide di Balikpapan. Tentu harus
dibawa dari luar Balikpapan. Nah, kalau bawa dari luar, otomatis
cost-nya jadi bertambah. Sehingga tidak masuk dalam bujet yang
sudah direncanakan. Kemudian terpaksa dibatalkan,” papar Yunita.
Disebutkan
perempuan 38 tahun itu, equipment yang sering tidak bisa
disediakan dengan standar internasional biasanya adalah mixer,
lighting, dan sound system. Kata Yunita, bila artis
indonesia masih bisa negosiasi, sedangkan artis asing rata-rata ada
mandatory yang memang tidak bisa digantikan. “Apalagi tentang
sound system tidak ada tawar-menawar karena fungsinya sangat
vital,” tandas perempuan yang sudah lama berkecimpung di dunia
event organizer ini.
Yunita
juga menambahkan, animo masyarakat Balikpapan terhadap konser 18+
terhitung sangat tinggi. Karena target yang selama ini dibidik adalah
para eksekutif muda. Itu juga yang menjadi alasan memilih artis-artis
yang peminatnya dominan usia 30 ke atas. “Karena rata-rata usia
segitu sudah punya penghasilan sendiri dan mampu untuk mendapatkan
tiketnya. Rp 1 juta pun masalah,” ujarnya.
Diungkapkan
Yunita, pada konser MLTR, awalnya, RedLine Organizer selaku promotor
asal Jakarta, menawarkan konser tersebut kepada kota Banjarmasin.
“Namun melihat peminatnya yang tidak terlalu mengena di masyarakat,
maka kemudian digiring ke Balikpapan. Di sini mereka melihat
opportunity-nya cukup besar. Ini juga menjadi alasan mengapa
Balikpapan dipilih,” ungkapnya. “Seandainya kita (Event
Organizer) di-support oleh banyak pihak, mulai dari segi
akses dan venue juga fasilitas internasional, pastinya akan lebih
banyak konser-konser asing yang akan manggung di Balikpapan,”
pungkas Yunita. (*/nno)
“Jangan Buru-Buru Memvonis Pasangan Infertil”
Mengenali Masalah Kesehatan dan Kesuburan Suami-Istri
“Jangan Buru-Buru Memvonis Pasangan Infertil”
Jika ada pasangan suami-istri yang
sudah lama menikah namun belum dikarunia anak, bisa jadi salah satu
dari mereka mengalami infertilitas atau ketidakmampuan menghasilkan
keturunan. Bisa dari sang istri atau suami.
Infertilitas
kerap diartikan keadaaan di mana seorang istri tidak mengalami
kehamilan setelah menikah tanpa penggunaan kontrasepsi atau program
kehamilan sebelumnya. Pada ilmu kedokteran versi lama menyebutkan
bahwa seorang perempuan ditentukan mengalami infertil jika dalam
kurun waktu 1 tahun tidak hamil. Namun dalam ilmu kedokteran baru
yang dipakai oleh Siloam Hospitals adalah 2 tahun.
“Memang
masih ada beberapa rumah sakit yang menggunakan prinsip 1 tahun,
namun kami menggunakan konsep yang 2 tahun. Karena kami harus
memeriksa dulu, penyebab utama, baik dari istri atau suaminya,”
terang dr HMD Ervintiyanto SpOG dari Siloam Hospitals.
Masyarakat pada
umumnya, kurang memahami apa itu infertilitas, atau yang biasa
dikenal sebagai bahasa awam adalah kemandulan. “Ini
yang sering kurang dipahami masyarakat. Suami-istri yang tinggalnya
berjauhan, seperti kerjanya di “lokasi”
dan istrinya lama tak kunjung hamil, kemudian divonis mandul. Jangan
buru-buru menilai segampang itu,”
kata Ervin, sapaan akrabnya. “Jadi
infertil bukan berarti mandul selamanya. Periksa dulu.”
Dikatakan dokter
spesialis kebidanan dan kandungan ini, infertilitas terbagi atas dua
jenis, primer dan sekunder. Diterangkannya, infertilitas primer yakni
istri belum pernah hamil meskipun sudah melakukan hubungan intim.
Sedangkan infertilitas sekunder, istri sudah pernah hamil lalu tidak
kunjung hamil lagi meski sudah rutin melakukan hubungan intim. “Oleh
karena itu, sebelum menghakimi seseorang mengalami infertilitas,
diharuskan periksa dulu jenisnya, baru kemudian diketahui
penyebabnya,”
kata Ervin.
Dipaparkannya,
penyebab bisa terjadi antara suami atau istri. Maka yang perlu
diperiksa adalah spermatogenesis-nya.
“Dilihat
dulu, apakah ada penyakit testis, atau kelainan endoktrin sehingga
spermatogenesis-nya
mengalami gangguan atau tidak,”
ujarnya. Ditambahkannya, infertilitas bisa saja terjadi kelainan
mekanisme sehingga sperma tidak dikeluarkan ke dalam puncak vagina,
karena beberapa hal. “Seperti
impotensi atau ejakulasi dini. Sehingga sperma yang masuk ke dalam
vagina wanita, tidak berjalan dengan baik atau tidak sampai,”
ulas Ervin.
Lanjut dia, tidak
menutup kemungkinan bahwa penyebab infertilitas datang dari istri.
Seperti ada gangguan ovulasi seperti kelainan ovarium atau gangguan
hormon. “Bisa
juga terjadi kelainan tuba, adanya mium, atau tidak sedang dalam masa
subur,”
tambah Ervin. Ujarnya, masa subur perempuan adalah 14 hari sebelum
hari haid atau menstruasinya tiba.
Disebutkan Ervin,
di Balikpapan, perempuan-perempuan yang mengalami infertil dan
memeriksakan diri bersama suami cukup banyak. Jumlahnya sekitar 10
persen dari keseluruhan kunjungan di Siloam Hospitasl. “Yang
penting untuk diperiksa adalah masa ovulasinya. Memeriksa vagina
smear, lendir servik, endometrium,
dan pemeriksaan hormon seperti
esterogen dan pregnandiol-nya,”
kata Ervin, jika yang diperiksa adalah istri.
Sedangkan jika
yang diperiksa suami, katanya, sperma harus dihitung berapa
banyaknya. “Sperma
yang telah dikeluarkan setelah 1 jam, nanti akan ditampung setelah
abstinensia selama kurang lebih 3 hari, untuk mengetahui jumlah
normalnya,”
kata Ervin. Dijelaskan Ervin, idealnya sperma bervolume 2-5 cc,
dengan sprematozoa 100-120
juta per cc. Kemudian, pergerakan normalnya 60 persen dari
sprematozoa,
masih bergerak ke dalam rahim, selama 4 jam setelah dikeluarkan.
Penyebab infertil
bukan hanya karena pengaruh gaya hidup pria yang tidak sehat seperti
merokok dan mengonsumsi alkohol. Namun, perempuan juga bisa
melakukannya. “Gaya
hidup seperti itulah yang harus sama-sama diperhatikan. Bukan saling
melempar siapa yang salah dan benar. Namun introspeksi kesehatan
tubuh sendiri dan pemeriksaan lebih lanjut, menurut saya tindakan
yang tepat,”
pungkasnya. (*/nno)
Bukan Public Relation Biasa
Kiki Eka, Public Relation Officer Blue Sky Hotel Balikpapan, Bukan PR Biasa
Mendalami Modeling
sembunyi-sembunyi, sampai membangun Sekolah Modeling Sendiri
Menelisik sisi lain
seorang Public Relation Officer Blue Sky Hotel, perempuan berpostur
ramping, berambut panjang, dengan logat jawanya yang khas. Tatanan
giginya yang rapi memperindah senyum manisnya, melengkapi pula
keramahan tuturnya. Dia bernama Kiki Eka, yang akrab dikenal dengan
sebutan Kika, yaitu paduan nama panjangnya.
Kika bukan hanya seorang
Public Relation (PR) Blue Sky. Dia adalah seorang model yang masih
eksis di kancah dunia entertain. Foto-fotonya sering kali terpampang
di situs jejaring sosial, hasil beberapa komunitas fotografi
Balikpapan, seperti . “Kalau ada komunitas yang ngajak foto, saya
masih available. Asalkan di saat weekend, Karena weekdays kan saya
konsisten sebagai PR,” terang Kika.
Dari kisah yang
dituturkan Kika, saat di kunjungi kaltim post kemarin (29/11)
di Piano Lounge, Blue Sky, Balikpapan Utara. Dunia modeling memang
sudah dicicipnya sejak masih duduk si bangku sekolah dasar saat di
Mojokerto. Ia berhasil mengumpulkan piala prestasi
berlenggak-lenggoknya di atas panggung, tidak tangung-tanggung
sebanyak 13 piala, sejak kelas 3 sampai kelas 6. “Kelas 3 SD aku
disekolahkan modelling oleh orangtuaku, sambil les tambahan pelajaran
juga. Sampai aku merasa eksis dan nyaman, kira-kira tahun 2000, aku
berhenti,” kata Kika tiba-tiba.
Rupanya, perjalanannya
sebagai seorang model, tidak semulus yang dibayangkan oleh orang awam
pada umumnya. Semakin menyelami sisi lain seorang Kika,
disebutkannya, bahwa mendadak orangtuanya ingin anak pertama dari dua
bersaudara itu berhenti di dunia modeling. “Mereka ingin aku fokus
dan menunjukkan prestasi di bidang akademik. Mereka meminta supaya
aku meninggalkan dunia model, yang sudah sangat aku cintai,” kata
Kika sambil tersenyum. Mimik wajah sedihnya saat mengisahkan ulang
masa lalunya, tidak juga dapat menutupi matanya yang berkaca-kaca.
Kata perempuan kelahiran
Mojokerto, 29 Juni 1989 ini, saat ia mulai SMP, beberapa tawaran
lomba modeling datang di saat ia dipaksa berhenti oleh kedua
orangtuanya. Katanya, dengan perasaan sedih dan kecewa ia tidak dapat
mengikti lomba-lomba tersebut. Ia bercerita bahwa selama beberapa
tahun dia harus mengubur mimpinya menjadi seorang model professional.
Lulus SMA, Kika mengambil
kuliah di universitas Airlangga Surabaya di tahun 2007. Berjauhan
dengan orangtua, Kika kemudian nekat kembali ke dunia modeling untuk
mengobati kerinduannya. Saat ia mengikuti Unit Kegiatan Mahasiswa
Sinematografi di kampusnya, ia melihat sebuah peluang di koran Jawa
Pos. Dirinya kemudian memberanikan diri, untuk menjadi Miss Kampus
se-Jawa Timur. Kika berhasil masuk 20 besar dari 80 peserta, hingga
masuk ke grand final. “Aku undang orangtuaku, lalu dimarahi. Sedih
itu pasti,” terang istri dari Dimas Adi (30) karyawan swasta.
Tak pantang menyerah,
Kika masih saja bersikeras menggeluti dunianya yang sudah melekat
pada panggung catwalk, fashion, dan kamera. Akhirnya Kika
melanjutkan kecintaan tersebut sembunyi-sembunyi tanpa sepengetahuan
orangtuanya. Dengan modal bakat dan keseriusannya di dunia panggung
tersebut, ia banyak didukung oleh teman-temannya dan pihak Agency.
“Aku mendalamani modeling di Agency Surabaya, dengan biaya sendiri,
itu pun nyicil. Aku sisakan uang jajan dari orangtuaku, tabunganku,
dan uang tambahan lain, supaya aku bisa sekolah itu,” kata
perempuan pecinta sekaligus kolektor pernak-pernik kupu-kupu ini.
Kika mengaku, dia bisa meraup untuk yang lumayan dari hasil pekerjaannya bergaya di atas panggung. Sambil memenuhi tawaran promo fashion oleh para designer terkenal di Surabaya, dia terus menyelesaikan sekolahnya sampai pada tahap Advanced atau level 3, tentu saja bukan biaya yang sedikit. Disebutkannya, jika di Jakarta terkenal dengan Jakarta Fasion Week, maka di Surabaya dikenela dengan Surabaya Fashion Parade. “Waktu itu aku ikut bridal (Fashion busana pernikahan) di sana dan digandengkan oleh Klien, bersama Alexandara Gotardo,” ungkap Kika.
Perempuan berambut ikal
tersebut juga mengatakan, aktivitasnya terus dikembangkannya, mulai
dari fashion catwalk, foto untuk majalah, fashion
hairstyle, sampai fashion bodypainting. Dikisahkannya, ia
tak pernah berhenti berlatih mimik wajah, akting di atas pangung,
sampai beragam teknik untuk semakin merasai level professional.
“Tinggiku 170 cm, dengan berat badanku yang sekarang 48 kilo,
kadang-kadang masih ada beberapa Designer yang masih minta aku untuk
diet 3 sampai 4 kilo. Dan memang mereka berani bayar lebih,” ungkap
dia.
Juni lalu, Kika baru saja
menyambangi kota Balikpapan hingga kini. Karena katanya, harus
mengikuti suami pindah tugas kantor. Ia mengaku, meski sebelumnya
sudah diberi kabar bahwa Balikpapan merupakan kota dengan orientasi
bisnis, kita tak genatar. Ia tetap maju terus untuk mencari celah,
memenuhi hasrat modelingnya, di dunia entertain. “Aku cuma berusaha
bagaimana cara, jiwa aku di dunia yang sudah terlanjur melekat ini,
tidak terkubur begitu saja,” imbuh Sulung, pasangan Suprapto (50)
dan Rahayu Ningsih (45), asli Jawa Timur ini. Akhirnya, mau tidak
mau, orangtua Kika sudah mulai “lunak”, untuk membiarkan Kika
menggeluti dunianya.
Kenekatan yang
dilakukannya hingga kini, sambil konsisten sebagai seorang Public
Relation Hotel cukup ternama di kota minyak. Hanya saja, kini ia
lebih menerima tawaran jika di waktu sabtu dan minggu. Untungnya,
sang suami mendukungnya penuh, bahkan mengijinkan istri yang baru
dinikahinya setahun lalu itu, untuk membuka Kika's Modeling Class.
Sekolah model bagi anak-anak yang berminat di dunia fashion,
foto model dan catwalk. Kini, Kika sudah punya 8 murid remaja
berbakat. “Aku maunya, mereka punya potensi. Mereka jangan sampai
putus harapan di tengah jalan. Kalau ada yang niat ingin jadi model,
aku bersedia untuk menjadi tentor,” pungkasnya tegas. (*/nno)
Mengenali Stres pada Anak Usia Sekolah
Mengenali
Stres pada Anak Usia Sekola
Kenali
Perilakunya, Orangtua Jangan Terlalu Intervensi
Stres
tidak hanya terjadi pada orang dewasa, anak usia sekolah juga sering
mengalaminya. Tanpa penanganan yang tepat, prestasi anak bisa jeblok.
TIDAK
dimungkiri anak-anak saat ini sering mengalami stres menjelang ujian
terutama ujian semester, ujian sekolah atau ujian akhir nasional.
Tanda-tanda stres bisa diketahui orangtua dengan memperhatikan
perilaku si anak yang tiba-tiba murung, menyendiri di kamar, atau
melakukan kegiatan yang tidak seperti biasanya.
Menurut
psikolog klinis Triharim Kemala, sumber datangnya stres pada anak
umumnya muncul dari lingkungan sekolah. Mulai dari masalah hubungan
dengan teman sebaya, krisis identitas, penampilan, pekerjaan rumah
(PR) dan tes yang diberikan guru. Stres tentunya berdampak pada rasa
tidak nyaman, gugup, bahkan sulit untuk berpikir dengan jernih.
“Ketika
menghadapi ujian pasti ada rasa cemas, apakah nanti dia akan
berhasil, atau malah gagal. Lalu, bagaimana nanti masa depannya, dan
sebagainya. Itu akan membebani si anak,” tambahnya.
Ia
mengungkapkan, selama si anak stres, orangtua jangan terlalu
intervensi. Jika stres masih dalam tahap yang wajar, maka hal
tersebut bagus untuk perkembangan si anak dalam melakukan problem
solving untuk membiasakan diri mengatasi kejenuhan atau
kekhawatirannya.
“Jika
anak gagal dengan perkembangan stresnya maka ia bisa tumbuh menjadi
seseorang yang mudah marah, tidak sabaran, dan bahkan dalam
bersosialisasi ia tidak mau memahami orang lain,” kata alumnus
Magister Psikolog Universitas Muhammadiyah Malang ini.
Diterangkan
Triharim, stres yang dikatakan masih dalam batas wajar yaitu ketika
si anak tidak mengalami suatu permasalahan lain yang munculnya
belakangan. Misalnya perubahan pola tidur, pola makan, termasuk
gairah hidup.
Dalam
ilmu pengetahuan psikologi, lanjut Triharim, stres terbagi dua jenis.
Yaitu stres baik dan stres buruk. Stres yang baik akan berdampak pada
motivasi persaingan prestasi belajar yang akan diraih. Sedangkan
stres buruk berdampak pada penurunan atau kenaikan nafsu makan, susah
tidur dan susah berkonsentrasi. “Jika efek stres itu baik, maka
stres belajar bisa menimbulkan keinginan untuk tidak mau kalah nilai
dengan teman-temannya,” ujarnya. “Tapi, jika efek stres itu
buruk, maka akan menghambat kemauan belajarnya. Kalau dibiarkan
semakin memburuk, malah si anak jadi susah tidur, susah makan, susah
konsentrasi, bahkan gairah hidupnya menurun.”
Triharim
tidak begitu saja berpendapat. Dia memberikan tips agar anak sukses
melewati ujian di sekolahnya. Menurutnya yang paling penting adalah
tetap belajar.
“Dahulukan mata pelajaran yang disukai dan dikuasai anak. Dukungan orangtua juga memiliki peran. Bukan mengajari, tapi hanya menemani anak belajar. Bila perlu ciptakan suasana belajar yang kondusif buat anak belajar,” imbuhnya.
“Dahulukan mata pelajaran yang disukai dan dikuasai anak. Dukungan orangtua juga memiliki peran. Bukan mengajari, tapi hanya menemani anak belajar. Bila perlu ciptakan suasana belajar yang kondusif buat anak belajar,” imbuhnya.
Jika
si anak merasa jenuh maka perasaan tersebut harus
dilampiaskan.”Melampiaskan kejenuhan belajar bukan hal yang
diharamkan. Misalnya mendengarkan musik, menonton film, atau main
game. Asalkan, harus ingat, jangan berlebihan,” papar
Triharim. Yang tidak kalah pentingnya adalah orangtua disarankan
memberi penghargaan apabila anak berhasil melewati ujian dengan baik.
Misalnya, dengan mengajaknya jalan-jalan, atau memberikan kejutan
yang bermanfaat. (*/nno)
Senin, 05 November 2012
Tunanetra
Latih
Kepekaan Anak Tunanetra Mulai Dari Perabaan Sampai Penciuman
Mata
adalah indera untuk melihat dunia. Dengan mata, seseorang bisa
menikmati pemandangan sekitar, membaca dan menyerap ilmu pengetahuan,
menyaksikan banyak peristiwa dan mengagumi keindahan alam.
Siti
Kasimi (32) mengakui bahwa komunikasi dengan anak perempuannya
bernama Ita, cukup baik. “Selama 14 tahun, komunikasi memang
terhambat pastinya. Hanya saja karena saya bertemu setiap hari dan
memenuhi kebutuhannya, jadi sudah terbiasa.” ujarnya.
Ketunanetraan
ini, berimplikasi langsung pada kemampuan penyandangnya dalam
mengakses informasi. Hilangnya indera penglihatan akan membawa
berbagai dampak, baik secara mekanis maupun psikologis. Indera
penglihatan merupakan indra pemadu segala rangsang yang diterima
individu.
Siti
menceritakan sekilas mengenai penyebab putrinya mengalami gangguan
fungsi indera. “Dulu, anak saya lahirnya prematur. Sembilan bulan,
namun berat badannya tidak sampai 2 kilogram. Kata dokter, dia harus
diinkubator, maka saya menurut. Selama dalam inkubator, rupanya suhu
udara di dalamnya terlampau panas. Sehingga berpengaruh pada retina
matanya. Sementara kan, bayi prematur itu organ-organ inderanya masih
sangat lemah ya,” kata Siti.
Tidak
berfungsinya indera penglihatan, akan cenderung memfungsikan indra
pendengaran dan perabaan secara intensif. Kondisi indera yang
demikian, akan membawa dampak pada layanan pendidikan, khususnya
dalam aspek pengolahan informasi bagi penyandang tuna netra.
Untuk
belajar membaca dan menulis,
umumnya anak-anak penyandang tunanetra menggunakan huruf braille.
Namun,
bagi kebanyakan orang,
pastilah sulit untuk memahami tulisan mereka tanpa memiliki
pengetahuan dasar braille.
Sehingga, teknik pengajaran bagi siswa Tunanetra, di SLBN adalah
kepekaan. Mulai dari melatih kemampuan taktual atau perabaan,
bau-bauan, berjalan bersama pendamping, lalu mulai berjalan tanpa
pendamping. Setelah itu mulai berjalan sendiri menggunakan tongkat
putih. Barulah kemudian dia mulai jalan sendiri dari jarak yang
paling dekat, sampai ke tempat umum, papar Mulyono.
Tidak
bisa melihat bukan berarti tidak bisa melakukan apa apa. Apalagi
tuntutan dunia saat ini dengan berbagai kemajuan teknologi, maka
keterbatasan fisik tidak harus menjadi sebuah halangan yang berarti.
Buta
bukan berarti pasrah. Mengeluh pun memang wajar. Namun, tidak berbuat
apa-apa, bukanlah hal yang disarankan. Tunanetra, merupakan sebuah
jendela, agar kita berusaha lebih baik dan bersyukur pada apa yang
kita miliki. (*/nno)
Langganan:
Postingan (Atom)
.png)
