Jumat, 24 Oktober 2014

Birthday In Singapore - (Part 1)

Berawal dari keinginan sederhana.
“Aku pengen ulang tahun di negri orang.”

Terlintas di benakku, #Singapura adalah Negara yang tepat. Didorong keinginan yang kuat dalam harapku, mulailah aku berpikir ‘bagaimana cara melintas ke negri tetangga’ itu. Berhubung aku sudah membuat paspor sejak tahun 2012 hingga nyaris di penghujung tahun 2013, namun belum juga kugunakan. Sayang rupanya kalau hangus setelah 5 tahun, belum juga ada cap ‘bandara asing’ setitikpun.

Kumulai dari mencari maskapai dengan harga termurah. Tak bosannya setiap hari aku bolak-balik mencari harga tiket di internet, pada tanggal yang sudah aku tentukan. 
Setelah beberapa minggu berkutat dengan ragam website penerbangan, akhirnya aku mendapatkan jadwal yang sesuai dengan harapanku. Pas! Apalagi, bukan minggu padat kerja, jadi aku bisa ijin.
Here I Go !

Aku dapat penerbangan #AirAsia yang sedang Promo. Tiket PP 665 ribu, kuambil dan kutebus di cabang Sarinah Mall, Jakarta Pusat.
Tiket sudah di tangan. Lega? Belum.
Belum cukup sampai di situ. Aku masih harus mencari penginapan yang sesuai hitungan budget backpacker-ku. Kembali berkutat dengan internet, aku teliti hostel murah yang sesuai dengan jam penerbanganku.


Berhari-hari tak bosan membongkar jenis-jenis penginapan yang murah, yang agak mahal, yang dekat dengan MRT, yang dekat jalan besar dan masih banyak ragam lainnya. Sampai aku menemukan hostel yang lumayan bersih dan layak untuk aku tinggali selama 2 malam. (Agoda.com).

Shophouse hostel, yang letaknya di Arab Street. Dekat dengan masjid Sultan, dekat MRT (Mass Rapid Train) dan area bugis yang banyak menyediakan jajanan dan pusat belanja oleh-oleh. 
Not bad, right?


Semalamnya, USD 22.30. Untuk 2 malam, maka USD 44.60. 
Murah? Cukup laaah.
Dilihat dari gallery foto interior hostel dan sekitarnya, tampaknya hostel ini cukup recommended karena punya locker, bed yang bersih, toilet yang lumayan bersih, punya living room yang seru buat nonton tv dan baca buku bareng turis asing, juga open roof top yang dipakai buat breakfast. Bisa sambil menikmati pemandangan gedung-gedung tinggi di sekitar hostel.  Ah, semakin ingin!

Sayangnya, aku bermasalah dengan cara pembayaran #Agoda yang hanya menerima #CreditCard. Sementara aku tidak memiliki Credit Card. Maka, sambil berjalan, aku berusaha untuk membuat Credit Card. Berhari-hari lagi, di waktu senggang bekerja, aku membaca bagaimana cara membuat credit card.
Tak ingin membuang waktu, maka kusempatkan untuk menukar sebagian tabungan rupiahku menjadi dollar Singapore yang saat itu mencapai Rp 9.100,-. Saat di Vallas (tempat menukar mata uang asing, Gandaria City), aku sempat tertawa dalam hati. 
Kenapa?

Aku membawa uang satu juta rupiah, which is 20 lembar uang 50ribuan. Lumayan, segepok. Saat aku menukarnya menjadi dollar Singapore, si teller menawarkan agar aku menambah seribu rupiah agar genap menjadi  SGD 110. Setuju. Lalu, teller itu memberiku dua lembar uang. Yang satu senilai 100 dan satu lagi senilai 10. Itu yang membuatku tertawa dalam hati. Begitu menggelitik benakku.


“Indonesia. Memang kecil sekali mata uangnya. Butuh waktu yang cukup panjang untuk mendapatkan tabungan satu juta rupiah, untuk ditukaran uang Negara tetangga yang hanya DUA LEMBAR. Dari 20 lembar, menjadi dua lembar. Wahai #PresidenIndonesia kelak, siapapun Anda. Dapatkan mata uang Indonesia tercinta kita ini, sejajar dengan Negara tetangga? Situasi ini, agak mengenaskan. Tapi rupanya sudah dianggap biasa oleh banyak orang, dan tidak mau membuat perubahan dengan keluar dari kebiasaan.”

Oke, kembali ke masalah penginapan. Ini belum selesai. Karena rupanya pengajuanku ditolak Bank Mandiri. Entah kenapa, padahal aku belum pernah punya cacat, pinjaman, atau apapun bahkan gajiku juga memenuhi standar minimum mereka (seminimumnya  Bank Mandiri, tahu kaaan. Sedikit lebih tinggi dari Bank lain). Ditolak? Yasudahlah. Tidak sama sekali membuat aku menyerah. Percuma ‘anak kreatif’ kalo nggak punya alternatif lain.
Aku mencari informasi agen tiket dan hotel yang bersedia membantu membayarkan hostelku. Lokasinya di Surabaya.


Tadinya ragu, dan deg-degan karena setelah menceritakan masalahku, agen travel tersebut menyelesaikannya dengan mudah. Kurang dari 24 jam. 

Nggak tau ya, travel tersebut ambil untung banyak atau enggak, yang penting aku merasa tertolong. 


Total rupiah yang harus dibayarkan pun,
 masih masuk dalam budgetku. 
Rp 515,050,- Wow.


Alhamdulillah. 
Semua berjalan lancar tanpa hambatan. 
Terima kasih, Koh Along!


Nyicil yang nggak berasa. 
Desember, beli tiket pesawat. Januari, beli Dollar #Singapore. Maret, booking Hostel. 

Woohoo! 
Mei … I’m ready!

Birthday In Singapore - (Part 2)

22 Mei 2014.

Jadwal yang sudah kuestimasi, begini…
Jam 1.30 pesawat boarding. Otomatis aku harus tiba di bandara sekitar 1,5 jam sebelumnya, which is jam 11.30. Yang artinya, aku harus jalan 1,5 jam sebelum tiba di bandara. Everybody knows!  Jakarta macet ya kaaaan. Berarti aku benar-benar harus start di jam 9 pagi. Apalagi, rencananya aku benar-benar niat untuk backpacker. Mendapatkan cara traveling dengan budget seminim mungkin. Naik Transjakarta disambung bus DAMRI adalah tujuan utamaku.
Hhhh, rupanya estimasi hanyalah prediksi belaka. Aku terjebak dalam hitungan estimasiku sendiri.

Jam 9 pagi, aku baru keluar dari kos, menuju kantor, yang berjarak 5 menit. Di kantor ada beberapa tugas yang harus aku pindah tangankan sementara kalau ada kebutuhan mendadak. It called "Back Up" to other friend.

Sampai di kantor, bapak produser yang sedang mengerjakan tugas pengambilan VT, meminta bantuan untuk take atmosphere suara tawa audience. Aku diminta ikut sebentar di dalamnya. Yang ternyata harus di take beberapa kali. Tidak cukup 10 menit tentunya. Berkali-kali kulirik jam tangan…waktu terus berjalan. Beberapa menit kemudian baru aku bisa menyerahkan beberapa file untuk take over kepada rekan kerjaku. Akhirnya 30 menit waktuku terbuang di ruang kerja.
Maka, segera aku mempercepat langkah ke shelter busway di Permata Hijau menuju shelter lebak bulus. Oooh maaan…dugaanku tepat. Jakarta macet, tapi kali itu lebih macet daripada sebelumnya. Aaaarrrkkk!!! Ingin teriak pastinya.
Sampai di Lebak Bulus, pukul sekitar 11.30. Oh, My, God! Jauuuh di luar estimasi. Tapi aku tetap harus tenang. Sempat terlintas untuk ngebut naik ojek saja sampai ke bandara. Ah, I won’t give up!

Aku kembali ke niat awal. Maka, langkahku tetap berjalan mencari pool DAMRI. Ketemu, setelah berjalan sekitar 5 menit! Maka naiklah aku ke bus yang sudah standby di barisan paling depan. Kulirik jam, yang menunjukkan pukul 12 kurang 5 menit. APAAA? Bus ini belum juga jalan. Ngetem coooy! Bah! Jadi makin hauuusss…  Beli lah aku sebotol aqua dan dua teh kotak. Rencananya satu teh kotak dan sebotol aqua ini, kuminum nanti saat di bandara sambil menunggu boarding. Kusimpan di dalam tas daypack, lantas kugembok! Jadi kuminum satu kotak teh saja.

Akhirnya bus jalan, sepuluh menit kemudian. Masih…Jakarta masih juara macetnya! Jam 12.30…bahkan bus belum juga masuk ke dalam tol! Gooood… berserah diri sajalah aku. Pasrah! Jam segini…seharusnya aku sudah check-in dan duduk manis di ruang tunggu. Tapi…AKU MASIH DI SINI. Duduk cemas di dalam bus yang masih harus beberapa kali berhenti karena jalanan macet. Sepuluh menit kemudian, akhirnya bus yang menampung lebih dari 40 orang ini MASUK TOL. Ahhh! Aku melirik jam yang jarum panjangnya nyaris menyentuh angka 9. Sungguh kupasrahkan liburanku kali ini pada Tuhan.

40 menit kemudian, Bus sudah masuk ke kawasan Bandara. Aku melirik jam yang sudah mendekati jam boarding. Seperti biasa, masih harus keliling di terminal Cargo. Sedangkan waktu terus berjalan. Sampailah aku di terminal 3, sepuluh menit kemudian. Benar-benar tinggal 2 menit lagi. Dalam hati aku sudah menyerah, tapi langkah kakinya semakin cepat, nyaris berlari.
“Kalau memang harus batal untuk tahun ini, ya sudahlah. Ah! Tapi penginapanku yang sudah susah payah kudapat bagaimana? Bodo amat sama dollar, bisa ditukar lagi… Tapi hostel kan enggak… aduh!”

Datang dengan napas terengah-engah ke counter Air Asia. Aku langsung menyerahkan tiket.
“Ke Singapur, mba.” Kubilang, sambil mengatur napas.
Si petugas (sebut saja ‘mba cantik’) langsung sigap menginput dataku ke dalam sistem komputer mereka. Sedangkan ada petugas lain (laki-laki)  yang sudah siap mengantarku untuk melewati kerumunan orang. Sambil menunggu, mba cantik yang menginput data itu selesai, aku menyiapkan uang boarding pass sebesar Rp 150.000. Mba cantik segera mengetik dengan cepat namun tiba-tiba dia berkata. “Offline.”

Terbelalak rasanya mataku. Lalu dia bicara dengan beberapa petugas Air Asia lainnya untuk membantunya menghubungi petugas di dalam pesawat melalui HT. Sementara dia sendiri berusaha untuk menelepon. “Tangganya sudah ditarik ya?”
Whattt?? Sekelebat aku teringat kejadian tahun 2008 yang mengingatkan aku, pernah ketinggalan pesawat di Bandara Adi Sucipto di Jogja. Agak dilematis, karena aku justru asik nongkrong dan tidak mendengar panggilan keberangkatan.
Seorang petugas laki-laki yang berhaga di area counter pun kudengar bicara di HT, “Tolong jangan ditarik dulu tangganya, Ada satu penumpang yang baru check-in. Penumpang terakhir. Tunggu sebentar.” Itu semakin membuatku panic, tapi bersemangat. Artinya ada harapan! 

Mba cantik itu tampak bernegosiasi. “Iya seharusnya penumpang ini masih bisa check in. Semua data sudah saya input, tinggal enter malah sudah di offline. Masih ada setengah menit. Oke, tolong dibuka lagi, ya. Untuk satu penumpang terakhir tujuan Singapura.” ujarnya agak tegas.

Aku memandanginya terpaku, dalam hati berharap bahwa semua rencanaku tetap berjalan sesuai harapan. 

“Oke, sudah online lagi.” Mba cantik spontan mengkroscek semua dataku, dan kubenarkan, lantas dia meng-enter ke dalam system lalu berkata, “Sudah. Mba bisa masuk sekarang, lebih cepat ya. Sudah ditunggu.” Sambil mengembalikan tiketku.

Petugas laki-laki itu mengawalku dengan langkah terburu-buru sambil memintaku berlari. “Lari aja mba, supaya lebih cepat. Nanti naik ke escalator, langsung pemeriksaan imigrasi ya.” Katanya. Maka aku langsung berlari mengikuti arahan yang ditunjuknya. Seperti di film-film drama. Lari-lari di dalam bandara!

Dia meninggalkan aku saat tiba di escalator. Di tangga berjalan itu pun, kakiku ikut melangkah naik supaya lebih cepat sampai.

Tiba di imigrasi, aku masih masuk ke dalam antrian yang isinya beberapa orang bule, perawakan arab, ada juga yang oriental chinese. Aku melirik jam lagi. Kecemasanku meningkat belipat-lipat. Beberapa menit kemudian, tibalah giliranku menjalani pemeriksaan imigrasi. Kuserahkan pasporku. Lalu petugas imigrasi itu bertanya-tanya soal tujuanku, berapa lama dan bersama siapa. Aku menjawab sesantai mungkin dan tidak menunjukkan kepanikanku soal segera ketinggalan pesawat. Lantas petugas imigrasi terus bertanya.
“Kamu asli Balikpapan?” tanya laki-laki itu.
“Iya. Paspornya kan buatnya di Balikpapan.” Jawabku santai.
“Balikpapan apa kabar? Masih bersih? Masih banyak kilangnya?” tanyanya lagi
Aku agak mengerutkan kening. “Ya Balikpapan baik-baik aja, pak. Ya pastinya kilang masih ada selama masih ada kantor Pertamina di sana.” Jawabku.
“Saya juga aslinya Balikpapan. Cuma sudah lama nggak pulang ke Balikpapan. Sudah hampir sepuluh tahun di Jakarta.” Katanya.
Aku tercengang sementara, spontan aku bolak-balik melirik jam tangan. “Saya juga  sudah lama nggak pulang ke Balikpapan, Pak.” Dalam hati, aku sudah ngomel “Duh paaaak, nggak pentiiing! Saya telaaat!”
Dia tersenyum lalu mengecap pasporku, kemudian mengembalikannya padaku. “Selamat berlibur.”
“Ya, Pak. Makasih.” Sigap aku mengambil paspor dan kembali mengantri untuk pemeriksaan scan fisik.

Tinggal antrian satu orang lagi, tiba-tiba petugas scan dihubungi melalui HT. Aku bisa mendengar suara di HT itu berkata. “Penumpang terakhir Air Asia, perempuan muda, pakai jaket hijau, sudah sampai di mana?” aku merasa. Jelas, aku pakai jaket hijau dan akulah penumpang terakhir tujuan Singapura siang itu. 
Lalu petugas scan itu sadar dengan kehadiranku dan membuka jalur untukku supaya langsung diperiksa. Jalur express namanya! 

Saat pemeriksaan yang terburu-buru itu, tiba-tiba tasku berbunyi. 
Astaga! Apalagi??!!
Petugas keamanan langsung menghampiriku. “Tolong buka tas nya, bu.” Ujarnya.
Aku segera mencari gembok yang kuselipkan di dalam kantong, membuka tas ranselku secepat yang kubisa. Sementara panggilan dari HT terdengar tak sabar menunggu ketibaanku di pintu pesawat. “Satu menit. Sedang pemeriksaan tas, sesnsor bunyi. Mungkin cairan.” Jawab security wanita itu.
Setelah gembok ranselku terbuka, mereka langsung merampas teh kotak dan botol aqua-ku! Ah Shit! Gara-gara dua minuman ini toh! “Ya, ya, ya oke.” Sembari aku mencari cairan-cairan lain yang lebih dari 100ml.

Selang beberapa detik, dua orang petugas bandara yang tampak senior muncul dari arah depan, bicara di HT. “Sudah ketemu. Iya, jaket hijau. Sudah selesai pemeriksaan. Menuju shuttle bus.” Kata satu di antaranya saat aku menoleh pada mereka.

Sementara bapak yang satu lagi menyapaku. “Tujuan #Singapura ya, bu. Sudah ditunggu shuttle bus di bawah.” ujarnya.
“Langsung lari aja, bu.” Petugas yang memeriksaku tadi menyahut.
“Oke.” Sambil berlari, aku menutup ranselku. But, heeey… Aku belum pernah keliaran di terminal 3 ini. Kalaupun sering keliaran, paling-paling diterminal 1, karena itu jalurku pulang kampung.  “Lewat mana?” tanyaku sambil berlari.
“Hati-hati larinya, bu. Lurus terus, nanti ada escalator turun ke bawah, sudah ada bus yang menunggu di sana.” jawab petugas senior itu.
“Oke, pak. Terima Kasih.” Kataku sambil terus berlari. Aku berlari secepat dan sekuat yang kubisa. Makin haus aku dibuatnya! Minumanku direbut pula! Alamak! Pokoknya yang kutahu saat itu, aku harus berlari dan terus berlari, seperti adegan dalam film-film drama action. Sempat terlintas dibenakku, “Berita bagusnya, ternyata terminal 3 ini gede juga ya!”

Oke sip, aku menemukan escalator menurun dan langsung menemukan shuttle bus #AirAsia.  Tanpa pikir panjang, aku langsung masuk dan bus segera berjalan. Aku adalah satu-satunya penumpang dalam bus! Rasanya dari awal sampai tiba di bus ini, seperti VIP jalur khusus. Hahaha…aduuh, maaf jadi merepotkan banyak petugas  di bandara, ya mba mas pak bu. Saya terima kasih banyak!


Bus berhenti tepat di depan pesawat parkir. Aku segera keluar, tak lupa mengucapkan terima kasih pada driver shuttle bus. “Makasih Paaak,” ujarku sambil melangkah keluar dan kembali berlari menuju tangga sebelum benar-benar ditarik dari pintu pesawat.

Alhamdulillah, liburanku masih bisa dilanjutkan!
Saat petugas yang berjaga di bawah tangga melihatku, dia langsung bicara di HT. “Penumpang terkahir, Jaket hijau, sudah sampai. Oke, aman.” lapornya.
Sambil menaiki tangga dengan langkah cepat, kusampaikan terima kasih pada petugas-petugas #AirAsia itu. Tiba di dalam pesawat, kutoleh sebentar pintu di sebelahku. Ya, tangga pesawat itu, akhirnya benar-benar ditarik menjauh dari badan pesawat. 
Alhamdulillah, liburanku masih bisa dilanjutkan!

Satu hal yang kuinginkan saat tiba di seat-ku, adalah membeli air minum. Hausnya bukan main, akibat berlarian di bandara. You know ya, jualan di dalam pesawat itu mahalnya segimana. Beli aqua botol keccciiillll, 10ribu! 

Birthday In Singapore - (Part 3)


Masih hari yang sama. 22 Mei 2014. 
Tiba di Bandara Internasional Changi Airport, Singapore.

Kunyalakan smartphone #Lenovo dan langsung sadar bahwa nomor indonesiaku benar-benar tidak berlaku di Negara ini, kalau tidak dipaketkan roaming internasional dahulu oleh si provider. Baiklah! Akhirnya aku mengandalkan wi-fi #ChangiAirport saja. Duduk dulu sambil santai di kursi bandara. Memperhatikan orang berlalu-lalang dengan ragam ekspresi. Mulai dari yang santai sambil tertawa bersama pasangannya, sampai beberapa anak muda asing yang agak berisik karena perginya rombongan bersama teacher mereka.
Beberapa menit kemudian, aku melanjutkan perjalanan untuk menyusuri bandara tiga tingkat ini. Karena PR ku masih lumayang banyak. Aku masih harus mencari barisan pemeriksaan Imigrasi, lalu harus mencari loket penjualan card MRT, mencari MRT (yang katanya masih dalam area bandara), dan mencari jalan menuju Hostel. Sementara, aku benar-benar merasa asing di tempat ini, karena ini kali pertama aku menginjakkan kaki di luar negeriku, Indonesia.
Baiklah! 
#Petualangan dimulai…

Alat Perang Backpackerku ... Buku panduan, Paspor, dll.
Aku menemukan antrian pemeriksaan Imigrasi yang sangat ketat. Setiap jalur pemeriksaan, benar-benar tidak boleh lebih dari satu orang, dan antrian tunggu yang berdiri, tidak boleh melewati garis batas (merah). Wah, tertib banget! Like this so!

Sambil masuk dalam antrian aku memperhatian sekitarku yang berbincang dengan rekan atau rombongannya dengan masing-masing bahasa mereka. Ada bahasa China, Bahasa Inggris, ada bahasa Thailand, bahasa India, juga bahasa perancis. Para petugas bandaranya kebanyakan berbahasa Melayu Malaysia. Malah aku belum menemukan orang yang berbahasa Indonesia. Seketika, aku merasa senang banget banget, ada di Negara ini. Colorful! Ragam orang ada di sini.

Hampir satu jam, akhirnya tiba giliranku diperiksa. Ditanya soal alamat tujuan yang jelas, berapa hari tinggal dan asalku dari mana. Si Petugas menggunakan bahasa melayu yang setidaknya ‘mirip’ dengan bahasaku. Lantas selesai dia mengembalikan pasporku, aku bertanya padanya, “Maaf bu, kalau saya mau mendapatkan MRT, dimana letaknya?” lalu tersenyum ramah padanya.
“Belok kiri, luruskan saja, sampai ke luar, Nanti MRT ada di luar.” jawabnya santun dengan aksen melayunya.

Setelah mengucapkan #terimakasih aku pun mengikuti arahannya. Memoriku bermain. Tentu saja, sebelum menjelajah di Negara ini aku sudah banyak membaca. Hanya belum tahu kemana arah patokannya saja.
Sampai di luar, aku menyusuri sisi bandara dan sesekali melihat peta area bandara. Lalu kulihat sebuah counter yang menyediakan penjualan Card akses MRT. Tadinya, yang pernah kubaca, harusnya aku mendapatkan kartu berwarna orange atau ungu bertuliskan Ez-Link. 



NETS-Flashpay-ku

Namun mendapatkan karta bertuliskan NETS-Flashpay. 
Harganya sama SGD 7. Dan fungsinya ternyata juga sama. 

Baiklah, lanjuuut.
“So where I have to go, to get the MRT?” tanyaku meminta pentunjuk arah.
Pemuda itu menjawab, mengarahkanku untuk naik escalator lalu menemukan train. Oke, aku mengikuti arahannya. Saat menunggu train itu datang setiap 4 menit aku perhatikan bentuknya. “Kok nggak mirip yaa, sama yang di video?” jadi ceritanya, selain membaca, aku juga menonton video-video tentang Singapore di #Youtube. Memperhatikan setiap detail bentuk. Lantas melewatkan kereta yang hanya berbentuk seperti kapsul canggih itu, aku membaca petunjuk arah kereta. Tersadarlah aku bahwa… ooh, ini shuttle train. Jelas, bukan MRT karena badannya hanya 1 gerbong.

Hampir satu jam ada di koridor luar bandara ini, finally! Setelah memempelajari seksama, peta bandara, akhirnya aku menemukan letak MRT. Berada di antara terminal 2 dan terminal 3. “Tinggal gimana caranya aku bisa sampe ke tkp ini.” Aku berpikir sambil menunjuk titik kordinat peta.

Secepat yang kubisa, segera kupelajari alurnya lalu mendapatkan caranya. Yoi donk! Ternyata, aku berada di terminal 1. Jadi, aku harus naik shuttle train untuk menuju terminal 2. Menunggu sekitar 3 menit, shuttle train ini benar-benar bergerak teratur tanpa driver. Datangnya setiap 4 menit sekali. Cool (menurutku) soalnya, di Indonesia kan ngga ada. Hehe.

menunggu shuttle train bandara Changi
 Sampai di terminal 2, aku ikut melangkah bersama orang-orang bule dan beberapa rombingan chinese dan India menuju pintu masuk. Daaaaan,…. Oh terminal 2 ini seperti Mall di Jakarta. Banyak cafĂ© dan restaurant kelas eksekutif dan suhu di ruangan yang keliatan mewah ini, passs banget. Nggak gerah dan nggak terlalu dingin. Asik, seru.
Mengikuti petunjuk plang di bandara, aku harus turun escalator untuk mendapatkan station MRT. Saat turun, aku menemukan station yang mirip di dalam video yang pernah kutonton. Aku harus turun escalator sekali lagi. Nah…saat tiba di batas masuk station kuperhatikan… ketat juga pemeriksaan di stasiun meskipun tanpa penjaga. Yang ada hanyalah mesin buka-tutup otomatis.
Kutempelkan Card NETS-ku di mesin buka-tutup otomatis, …dan batas itu langsung terbuka. Bahkan terdapat detil sisa dollarku dalam Card di mini screen . Canggih! Aku segera masuk ke area station dan membaca peta MRT yang sudah kudapat dalam buku tripku.

Peta MRT Singapore

Aku menunggu di Line Hijau, ke arah Joo Koon. Menunggu hanya beberapa menit, MRT datang. Saat naik, aku sempat menertawakan diri sendiri bahwa daritadi aku menunggu benda ini selama 2 jam berkeliling Changi. Judulnya, “2 hours Lost In Changi”. Hahaha.

di MRT. Sssttt.
Begini toh rasanya naik MRT. Jauh lebih nyaman, daripada naik commuter line di Jakarta. Melewati beberapa terowongan dan melintasi pinggiran kota. Tampak gedung-gedung tingkat yang terlihat sederhana dari luar. Namun sungguh sedap dipandang karena tata kotanya yang rapi, bersih dan tertib.

dalamnya MRT begini. Tertib & Bersih
Akhirnya aku turun di shelter EW12 - Bugis.
Keluar dari MRT, bersama puluhan orang lainnya, kuikuti saja mereka sampai jalur keluar. Sekali lagi, ketemu sama pintu buka-tutup otomatis. Hmm, rupanya ini pemeriksaan ulang untuk memastikan penumpang sudah sampai tujuan, dan berapa dolar yang harus terpotong selama panjang perjalanan yang ditempuh. Tertib dan aman!
Eh, orang-orang di Singapore sini jalan langkahnya cepat semua. Settingan kakinya oke juga. Haha!

Sampai di luar, ini dia nih! Menurut buku, aku harus menyusuri Victoria street untuk bisa menemukan Bugis Street dan Masjid Sultan. Arah ke kanan dan ke kiri, adalah nama jalan yang sama yaitu Victoria street. Aku harus ke kanan atau ke kiri?


hayolooo... kanan atau kiri?
Karena niatku jalan-jalan, ya sudah kupikir jalan kaki pun masih oke. Aku memutuskan mengambil jalan ke kiri…jalan luruuuus terus memperhatikan sekitar. Takjub dengan traffic lamp yang mengatur lalu lalang kendaraan dan penyebarangan pejalan kaki. Kalau lampu traffic meminta kendaraan berjalan, tidak ada satu pejalan kakipun yang melanggar untuk menyebrang. Bahkan tidak juga melewati batas garis yang dibuat. 
Kalo buru-buru? 
Ya tetap harus-wajib menunggu! 
Bagoooss!

Aku melewati perpustakaan besar. Terus berjalan, lalu menyadari bahwa sepanjang berjalan di trotoar, tidak ada seorang pun yang merokok. Yang ada, beberapa orang duduk sambil merokok, di dekat tong sampah. Tidak sambil berjalan, apalagi buang puntung sembarangan.


Jalan aaaaaja teroooss

Sekian lama berjalan, hari semakin sore. Aku lapaaaarrrr. Dan nggak boleh telat makan paska sakit gejala tipes Maret lalu. Aku belum juga menemukan jalan menuju penginapanku. Kulirik jam, menunjukkan hampir jam 7 malam. Eh….malam? tapi masih terang. Jam 7 masih terang di Singapore. Hahaha. Baiklah… akhirnya aku bertanya pada segerombolan wanita muda. Kemana arah Arab street di dekat masjid Sultan.


ini tkp aku nyasar. Victoria street. hahaha


Mereka menjawab dengan ramah, bahwa aku berjalan melawan arah. Jadi, pada saat keluar pintu station MRT, aku seharusnya  mengambil arah ke kanan. Baiklah, aku memutar balik perjalanan di sepanjang Victoria Street.
Saat tiba di lampu merah, langit baru mulai gelap. 
Pas! lampu merah untuk pejalan kaki. 

Sambil menunggu, aku menghampiri dua gadis berkerudung yang tampak juga akan menyebrang. Aku bertanya lokasi dimana Arab street dan masjid Sultan. Dengan bersemangat, gadis Malaysia itu memberikan petunjuk. Dipikirnya pun, aku mencari masjid untuk sholat maghrib karena sama-sama berhijab. Lalu dia dan temannya menawarkan untuk jalan bersama, karena mereka hendak ke kampus yang jalannya melewati Arab street. 

Area Bugis Street
Tepat di sebelah area bugis street yang aku lewati sejak tadi. 
Sambil jalan, kami ngobrol tentang Singapore yang rapi dan Indonesia yang punya ragam budaya. Kami berpisah di depan jalan, passs jalan masuk Arab Street. 
Lambaian tangan berpisah dan salam terima kasih mengantarkan aku kembali menyusuri #ArabStreet sendirian.



Akhirnya aku menemukan Shophouse hostel yang sudah ku-booking. 
Sampai di Hostel, aku tinggal menunjukkan bukti pembayaran dari travel agent via Agoda. 
Benar-benar beres. 
Aku hanya diminta deposit SGD 10 sebagai jaminan turis asing, yang nantinya akan dikembalikan pada saat check-out hostel. Saat itu gadis bernama Grace yang mengantarkan aku sampai ke lantai 3. Dia membuka kamar, namun aku sempat bingung. Karena dia mengantarkanku ke  dorm 6.  Sedangkan aku memesan satu bed dalam female dorm 12. Setelah dia pergi untung saja aku segera sadar, bahwa ini bukan kamarku. Segera keluar, aku mencoba membuka pintu ruangan sebelah dengan kartu akses hostel. Saat kubuka, ada 12 dorm, dan nomor bed yang kumaksud pun kosong. Langsung saja aku menempatinya. Meletakkan tasku dalam loker, melepas sandal, lalu merebahkan diri di kasur.

Jaket kesayangan penyelamat 'last minute' di bandara Soetta

Suasana Kamar Dorm 12 yang kayak Asrama
Seorang ibu di sebelah bed-ku menyapa, “Halo.”
“Halo.” Balasku.
“Where do you from?” tanyanya dengan logat asing yang belum pernah kudengar sebelumnya. Perawakannya pun seperti orang Indonesia namun sedikit lebih sipit. Tidak tampak seperti Chinese juga. Akhirnya, berkenalanlah kami dan aku jadi tahu bahwa ibu tersebut sedang berlibur bersama seorang anak gadisnya dan seorang keponakan perempuannya selama enam hari di Singapura, baru hari ketiga, dan mereka berasal dari Filipina.

Keasikan ngobrol, aku melirik jam yang menunjukkan jam 9 lebih dan aku lapaaarrr. Aku permisi meninggalkan ibu tersebut, yang sampai saat ini lupa kutanya namanya. Aku pergi kuliner malam hari sendirian. Mampir ke mini market #711 (sevel.red) membeli beberapa cemilan agar tak telat makan dan minuman kalau haus dan malas keluar kamar.
Setelah itu, aku mampir ke warung makan India. Aku memesan nasi goreng, makanan yang kira-kira bisa diterima perutku yang mulai perih. Awalnya merasa aneh, karena warnanya begitu merah dan aromanya seperti full of rempah-rempah. Menyengat. Demi perut, harus dimakan. Kumakan, tanpa memesan air. Karena kurasa air yang tadi kubeli, cukup banyak. Rasanya… aneh, tapi lumayan. Harganya sekitar SGD 7.

Usai makan, aku kembali ke Hostel dan mencatat password wi-fi di lobby hostel agar bisa berkomunikasi dengan teman-temanku di Indonesia, Jakarta terutama. Malam ini, tepat jam 12, aku berulang tahun!

Setelah smartphone kembali punya signal, aku bersantai di bed-ku. Pegal rasanya kakiku…setelah berlari di Bandara Soetta, aku masih nyasar di Changi lalu masih nyasar lagi di Victoria Street. Orang oertama yang kuhubungi adalah Monique. Teman sekantorku dulu, kini dia adalah reporter ‘detik’ di Jakarta.  Dia yang menuntunku sebelum tiba di Changi. Karena dia yang sudah pengalaman ke Singapore lebih dulu.

Kuceritakan semua kejadian yang kualami sejak pagi… sampai sekitar jam 11 malam. Sampai ke toilet pun, ponsel kubawa bawa saking serunya bercerita. Oh iya, toiletnya lumayan bersih, seperti yang kulihat dalam gambar di internet. Ada kaca besar, ada juga setrikaan. Komplit.

Lalu, ponsel kutinggalkan tercharge, aku merapikan diri di kasur, mencari posisi pas untuk tidur. Tiba-tiba sms masuk. Kubaca dari Ibuku. 

Mommy -ku
Beliau mengucapkan ulangtahun. 
Belum jamnya, tapi dia tampak antusias.
Kalau cek pulsa, dia pasti kaget tiba-tiba pulsanya berkurang banyak karena roaming internasional. Beberapa menit kemudian, ponselku berdering. Ibuku nelpon rupanya. 
Yah mau gimana…terpaksa tidak kujawab. 
Selang beberapa menit kemudian, temanku 'Bahtiar' juga mencoba menelponku. 
Sama, tidak kujawab juga. 
Kasian kalau kuangkat teleponnya, bisa langsung habis pulsanya padahal baru bilang “Halo”. Maaf yaa. 

Apalagi niat liburan sendiri ini kan memang tidak menerima panggilan telepon dan membalas sms. Kalau chatting masih okelah… Path juga oke. 
Mengasingkan diri.


Ya, SELAMAT ULANG TAHUN NENO.
23 Mei 2014.
Singapore. Pkl 01.00 dini hari.

Let’s sleep, supaya jalan-jalan besok bisa fit.

Kamis, 23 Oktober 2014

Birthday In Singapore - (Part 4)


23 Mei 2014.
Bangun tidur, say hello dulu sama Keluarga Filipina di sebelah kasurku…
Beranjak mandi dan berniat untuk leha-leha di hostel. Selesai Mandi, saat aku hendak dandan, kusadari bahwa ada seorang gadis berhijab yang bednya tepat di samping pintu dorm. Dia sedang asik membaca peta. Aku menghampirinya. Berharap dia adalah orang Indonesia, karena sudah sejak kemarin aku tidak menemukan orang Indonesia di Singapore ini.
Ketika dia menjawab, dia berbahasa Indonesia dan (sama) dari Jakarta pula. Nah! Ngobrol sebentar, akhirnya kami memutuskan untuk jalan-jalan berdua. Aku yang tadinya cuma mau iseng ke Marina Bay untuk melihat patung #Merlion, malah jadi punya tambahan alternative lain, karena dia mengahakku jalan-jalan. Baiklah... Let’s go, girl!
Karena terburu-burunya, aku sampai tak sempat leha-leha sarapan dan ngopi di roof top. Tak apa, kami segera meninggalkan hostel dan mulai berfoto-foto sepanjang perjalanan. Kami naik MRT menuju vivo city. Dari vivo city, kami melanjutkan perjalanan naik bus. Dia mengajakku ke Henderson waves. Jembatan gantung yang sangat tinggi. Tempat yang sangat cocok untuk melakukan photo pre-wedding. Viewnya bagus.


@rachmanandania - tag : Singapore 2014
di Depan mall Vivo untuk transit Bus

@rachmanandania - tag : Singapore 2014
harus naik anak tangga ini dulu baru. tinggiii...

@rachmanandania - tag : Singapore 2014
biar kayak di luar negri gitu. haha.

@rachmanandania - tag : Singapore 2014
Ini istirahat dulu. setelah naik tangga...capek.

@rachmanandania - tag : Singapore 2014
Sebelum liat waves benerannya, foto dulu sama Judulnya

@rachmanandania - tag : Singapore 2014
asri & sejuk
@rachmanandania - tag : Singapore 2014
nah...itu Henderson Wavesnya di belakang

@rachmanandania - tag : Singapore 2014
Ini dia Herderson Waves yang keren

@rachmanandania - tag : Singapore 2014
View dari Henderson Waves

@rachmanandania - tag : Singapore 2014
View (sisi sebelah) dari Henderson Waves

@rachmanandania - tag : Singapore 2014
Henderson Waves yang bersih
@rachmanandania - tag : Singapore 2014
View nya yang bagus dari atas


























Tadinya pengen banget naik kereta gantungnya. Sayangnya itu harus menempuh jalan kaki lagi, sedangkan awan tiba-tiba mendung. Peraturan utamanya, kalau mendung atau malah hujan, tidak boleh berada di area #HendersonWaves. Makanya kami langsung berlalri pulang. Hahaha. 
It was fun.

Benar, saat kembali ke vivo city naik bus, hujan turun dan jam menunjukan waktunya makan siang. Tepat sekali, kami berhenti di halte area kuliner, tepat di seberang vivo city. Maka kami memutuskan untuk ngaso dulu, karena hujan cukup lebat.

Hhh, banyak makanan memang…tapi ya Everybody Knows bahwa tidak semua bisa dimakan oleh para muslim seperti kami. Kami berkeliling mencari makanan yang pas dimakan kala hujan, seperti kita keliling di area food court saja. Hehe.

Aku belum punya pilihan untuk makan siang, karena banyak sekali menu yang kuduga mengandung (daging) babi. Maka aku lebih waspada dan berhati-hati juga dengan budget di kantong. Gadis itu (Lagi-lagi aku lupa namanya) bilang, dia ingin sekali makan mie kuah panas yang ‘ngebul’. Lalu dia tertarik pada antrian panjang orang yang makan mie bersama potongan daging bersaus kental merah. Nikmat? Ya sepertinya begitu. Aku pun menemaninya, masuk ke dalam antrian. Kupikir, tidak ada salahnya juga mencoba kuliner yang belum tentu kutemukan di Jakarta. Sambil ngantri kami ngobrol, setelah makan ini kemana, tiba-tiba seorang bapak menghampiri kami. Bapak itu bertanya pada gadis di sebelahku ini. “Kalian dari mana?” gadis itu menjawab, kami berdua dari Indonesia. Lalu bapak itu berkata lagi, “Makanan yang di sini tidak boleh kalian makan. Apalagi kalian muslim, berhijab.”  - Dharrr!! Kemudian bapak itu mengucapkan salam dan pergi begitu saja.

Aku dan gadis itu saling pandang, lalu sama-sama melihat antrian paling depan, mengamati seksama lagi menu utamanya. Memang tidak dikatakan langsung tidak halal, tapi dengan tulisan berbahasa cina nya dan bentuk daging yang tampak asing bagi kami itulah yang akhirnya menguatkan asumsi kami, bahwa semua makanan dalam antrian ini mengandung babi. Dan kami memang harus pergi dari area ini.

Sambil menahan tawa, kami duduk di meja dan memesan minuman teh tarik. Enak loh, mungkin karena letaknya di Singapore aja kali ya maka nya enak, haha. Sambil ngobrol lagi, kami sangat yakin bahwa kami kelaparan, akhirnya kami bergantian untuk mencari makanan pilihan masing-masing. Dia memesan nasi goreng berbumbu merah. Persis, seperti yang kumakan saat tiba di Negara ini semalam. Dan aku tidak begitu suka.

Akhirnya aku melirik kios makanan milik orang Pakistan. Sepertinya muslim…iya lah, bapak itu tampak berbaju gamis dan menggunakan peci di kepala. Judul menu kiosnya pun bertuliskan bahasa arab. Aku pesan sop iga. Kental dagingnya lumayan banyak. Sebelum kutanya, bapak itu bilang. “Ini halal, daging sapi.” Aku tertawa, “Thank you sir, I believe on you.” Sambil meracik, si bapak mencoba bertanya-tanya padaku, ramah sekali. “Dari mana?” tanyanya menggunakan bahasa melayu, namun tetap dengan logat timur tengah. “I am Indonesian.” jawabku. Dia menatapku sebentar lalu tertawa, “Banyak wanita cantik di Indonesia. Termasuk kamu, nak.” ujarnya dengan bahasa inggris. Aku tertawa lagi. Setelah jadi aku bertanya, tidakkah kiosnya punya nasi? Atau karbohidrat yang lain? Lalu bapak itu menawarkan aku, “Roti? Mau? Ini enak. Kamu pasti suka.” Dia langsung memotong roti kering (bukan roti cane) dan diletakannya di piring kecil. Tadinya aku hanya mau sedikit saja, 3 atau  potongan kecil saja, namun ditambahkannya jadi banyak. Entah jadi berapa. Katanya “Bonus”.  Hahaha. Baik sekali Bapak itu. Akhirnya aku membagi makananku pada gadis yang bersamaku. Ah sebut saja Aisa ya. Haha. Dia juga bingung, ada sop iga…makannya pakai roti kering. Enak juga, kata kami.

Hujan reda, kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan ke Chinatown, naik MRT. Saat di dalam station train, rupanya isi di dalam NETS-ku tidak cukup, sehingga pintu buka-tutup otomatis itu tidak mau terbuka. Aisa menawarkan Ez-Link nya agar aku bisa masuk, tapi sayangnya si pintu otomatis itu hanya melayani 1 kali buka tutup. Benar saja, karena itu akan kontiniti sampai ke station tujuan baru bisa saldonya terpotong otomatis. Keren. Traffic seperti yang sangat perlu diterapkan di Jakarta, bahkan di seluruh kita di Indonesia. Alhasil, aku harus me-refill NETS card untuk melanjutkan perjalanan. Refill nya di mana? Gampang…bentuknya seperti mesin atm, letaknya di pinggir koridor. Petunjuk pengisiannya juga mudah seperti kita beli minuman kulkas di pinggir jalan. Uangnya kertasnya jangan lecek. Hehe.

Kami pun berangkat, sampai ke #Chinatown. Saat tiba, suasananya seperti mendadak tiba di Negara China. Wajah oriental bertaburan di sini. Banyak ornamen berwarna merah-kuning, lampion yang tergantung cantik di langit-langit, gambar barongsai juga kuda panglima perang.

@rachmanandania - tag : Singapore 2014
baru sampe dari MRT ChinaTown

@rachmanandania - tag : Singapore 2014
pemandangannya bagus

@rachmanandania - tag : Singapore 2014
Ornamen Chinese-nya seru

@rachmanandania - tag : Singapore 2014
gaya dulu di depan Station MRT
@rachmanandania - tag : Singapore 2014
China Town's View
Kami putuskan untuk memulai hunting oleh-oleh. Banyak sekali pernak-pernik yang bagus dan unik. Kalau tidak berhati-hati menghitung budget, bisa lupa diri. Hahaha. 
Dan aku berusaha mendisiplinkan diri untuk tidak membeli barang-barang yang tidak perlu. Hanya membeli beberapa T-Shirt Singapore, Tas tangan dan boneka Merlion Singapore (untuk Ajun, keponakanku) untuk oleh-oleh. 

Lalu kami jalan-jalan lagi menyusuri Chinatown. Banyak makanan yang sangat menggugah lidah. Ada juga makanan kering yang bisa dijadikan oleh-oleh. Kopi dan teh nya juga cukup menggida saat tak sengaja kami melihat antrian orang memesan.  Lalu kami teringat kejadian makan siang tadi. Bukan area aman…haha.

Hari hampir sore, sementara masih ada beberapa tempat yang ingin sekali dikunjunginya. Apalagi aku yang tujuan utamanya adalah Patung Merlion di Marina Bay. Maka kami memutuskan “geser” ke Little India. Hihi. 

Lagi, naik MRT. Kami menuju #LittleIndia, mencari candi yang bentuknya unik dan niat berfoto. Sampai lah…

Menunggu MRT

Sekitar station MRT Little India

Aww. Shahrukh Khan... cakep.
Suasananya sangat berbeda dengan Chinatown. Bertaburan wajah-wajah hitam manis India di sini. Hahaha, yaiyyalaaah... kami jalan kaki menyusuri pasar dan mencoba membuka peta lagi. Lalu ada sepasang suami istri menghampiri kami. Yang istri berhijab panjang dan suaminya berbaju koko. Suaminya bule, rambutnya blonde dan tampak seperti mualaf, karena tidak bisa 
berbahasa Indonesia seperti bahasa Istrinya. Sang istri menanyakan alamat pada kami, namun kami tidak tahu persis bagaimana caranya sampai ke tujuan yang dia maksud. Akhirnya kami sama-sama membaca maps. Setelah itu, mereka pun mau mencoba. Haha, muda sekali pasangan suami istri ini. Seperti pengantin baru, jadi pengen. Hahaha. Kami berpisah dengan mereka. 

Aku dan Aisa jalan-jalan lagi, mencari lokasi candi itu. Setelah berkeliling, tidak ketemu juga. Hhh seperti belum berjodoh untuk berfoto. Baiklah, kami pun memutuskan untuk “geser” lagi. 

Sambil nunggu MRT, foto dulu!

Nunggu MRT datang, gaya baca-baca dulu

Akhirnya, kami menuju Marina Bay.
Lumayan jauh juga perjalanannya. Hehe. Karena setelah turun dari MRT, kami harus jalan kaki keluar gedung, lalu jalan kaki lagi menyusuri sungai, lewatin hotel mewah “Fullerton”,  lalu jalan kaki lagi masuk ke dalam terowongan, lalu jalan kaki lagi di sepanjang area bawah jembatan, lalu naik tangga…jalan kaki lagi baru kami bisa benar-benar menemukan patung Merlion. Kami tetap harus turun tangga lagi dan jalan kaki lagi. Capek…tapi terbayar. Ramai sekali. Ratusan orang tampak niat berfoto dengan latar belakang merlion ini, termasuk aku dan Aisa.


kayak di pinggiran Italia nih. bagus view nya

ini peninggalan sejarah dibangunnya Singapore, katanya

ini juga jembatan bersejarah, katanya

"Dasar anak-anak..," -haha

ini sepenggal cerita tentang Singapore

Jalan kaki, makin pengen cepat sampe ke Marina Bay

Fullerton Hotel yang terkenal megahnya

Makin dekeeeet...

Kapaaaan Indonesia bisa rapi begini ya

sedikit lagi sampeee ....

Esplanade yang biasa buat konser itu loooh. 
Kayak Duren montong
keliatan...keliatan

bagus tanamannya. supaya ngga gersang jalanannya

Hai ... Merlion!

foto dulu, supaya ngga hoax

akhirnya sampe juga ...

foto terus begini ,,, sempet ketemu Billy (adeknya Olga)

Aku di Singapore, ayah ...

Aku di Singapore, Ibu ...
ini dia yang menemani aku di Singapore



ini toooh Marina Bay
Kios Candy & Chocolate


Setelah puas berfoto, kurasa sudah cukup. Jadi, mau diajak pulang pun…aku setuju. Mau diajak jalan lagi pun aku setuju. Yang jelas, aku lapar. Haha. Dalam perjalanan pulang, aku melihat kios cokelat and candy, jadi aku mampir untuk beli oleh-oleh dibawa pulang besok. Kami berdiskusi sebentar. Aisa bilang, dia masih ingin naik sight seeing, roda berputar untuk melihat Singapore dari ketinggian. Dan itu memakan SGD 30. Dia mengajakku, tapi aku menolaknya. Maka, aku bilang padanya… naiklah sendiri, aku tunggu di bawah. Dia menyetujui keputusanku. Maka kami janjian untuk ketemu lagi di pinggir river.


Di sini aku merenung, berdoa, bersyukur di hari ulang tahunku

Hari pun gelap. Aku duduk sendirian. Memandangi Marina Bay...Sungainya dan bias cahaya di air…bangunan kapal yang tinggi itu, lampi-lampu yang mulai dinyalakan dan patung merlion dari kejauhan. Terdengar alunan musik live performance di setiap sudut. Dan tiba-tiba aku merasa di sini menjadi tempat paling indah sepanjang hidupku. Ya, ini adalah hari ulang tahunku. 23 Mei yang ke 27 kalinya. Airmataku sempat menetes saat kuingat almarhum Ayahku. Semoga beliau turut merasakan kebahagiaanku saat duduk merenung di sini.

Lampu malam yang paling kusuka, di sudut ini paling keren!

Tahun 2014 ini, adalah ulang tahun terindah yang pernah kubuat untuk diriku sendiri.
Ulang tahun tanpa siapa-siapa.
 Tidak ada orangtua yang mendampingiku, tidak ada lawan yang mengusikku, tidak juga ada sahabat yang bergandeng tangan bersamaku.
Ini yang kuinginkan untuk saat ini.
Menyepi.
Menikmati hari ulang tahun, mandiri, sendiri.
Tidak ada rasa takut, tidak juga rasa kesepian.
Aku bisa berbincang dalam kesunyian hati, mengadu pada Tuhan dan Malaikat, di bawah langit bertabur bintang, di tengah keterasingan, khidmat bersyukur kepada Allah swt, bahwa aku masih bisa berdiri tegak, meski ujian hidup berkali-kali menggodaku untuk mati tersungkur.
Menyerah tidak boleh semudah itu. Semakin kuat angin berusaha menjatuhkan, maka semakin kencang tawa yang wajib kubuat.
Karena, di balik badai yang diberikan Tuhan dalam hidupmu, pasti ada ajaran hidup bahwa kita tidak boleh menyerah begotu saja. Tuhan menyiapkan “hadiah” dari setiap ujian yang diberikanNya.
Sekali lagi. Selamat Ulang Tahun, Neno.
Salam rindu kutitip lewat angin, kepada orang-orang yang kusayang.
###

Nyaris dua jam kemudian, Aisa pun kembali. Kami menuju jalan pulang ke hostel, berniat makan malam. Kami tiba di station Bugis. Lalu, kami mampir ke pasar oleh-oleh mengingat aku harus kembali ke Tanah Air besok siang. Aku membeli cokelat kiloan. Dan kulihat Aisa ingin sekali membeli makanan ringan sejenis D’crepes. Sambil bercanda, kubilang padanya “Yailah…kayak gituan, pulang aja ke Jakarta.” Lalu kami tertawa dan melanjutkan “Liat-liat”. Aku sungguh lapar, tiba-tiba ingin sekali mengantri di sate sosis yang dibakar. Saat mengantri, tiba-tiba Aisa bilang, “Yailah…tempura gituan, pulang aja ke Jakarta.” –Hahahhaha. Baiklah kami menjauh. Kami memang berniat, tidak membeli makanan yang bisa kami temukan di Jakarta. Maka, kami pun melanjutkan jalan pulang ke hostel. Kami hanya meletakkan tas dan barang belanjaan di bed, lalu keluar lagi.
Kami putuskan untuk makan di dekat area hostel. Aku penasaran bagaimana rasanya Laksa Singapura, sementara Aisa memesan nasi…apa ya, aku lupa. Pokoknya kami makan enak dan tetap hemat.
Image
Aisa mengajakku jalan-kalan besok di Haji Lane dan Orchard. Tapi aku nggak begitu ingin ke sana. Jadi, kutolak. It’s okay, karena aku yakin, kapan-kapan aku bisa mampir ke Singapore lagi.


24 Mei 2014.
Bangun tidur, aku mandi dan memenuhi hasratku untuk leha-leha di roof top. Breakfast dan ngopi. 

Good Morning, Singapore

Breakfast di roof top














Sempat, aku meninggalkan buku karya terbaruku yang berjudul “Catatan Tentang Cinta” di rak buku di ruang tv. Buat kenang-kenangan, siapapun yang menemukan dan membacanya. 







Sudah jam 11, aku berkemas, langsung menuju bandara Changi Airport, kembali ke Indonesia. ***